New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru?

Selamat datang di “New Normal”. Begitulah salah satu headline sebuah media elektronik yg masolo baca melalui tautan di media sosial.

New normal itu apa sih?
Kenapa harus new normal?
Sesiap apa kita dengan new normal?

Bagi yang belum tau, new normal adalah sebuah kondisi yang dikondisikan oleh pemerintah Indonesia dengan tujuan menggerakan roda perekonomian dengan cara hidup berdamai dengan Corona melalui protokol kesehatan ketat dan membuka kembali PSBB secara bertahap.

Kok dibuka?
Kan virusnya masih ada?
Aman ga itu?

Kondisi ini terpaksa harus dilakukan mengingat bahwa kita tidak tau sampai kapan pandemi akan terus berlangsung, tidak tau kapan pandemi akan mereda, tidak tau kapan virus akan pergi (atau bahkan akan menetap bersama kita selamanya). Di satu sisi, banyak dampak yang diakibatkan oleh virus ini selain kesehatan, salah satu yg terbesar adalah faktor ekonomi. Banyak yang sudah kehilangan pekerjaan, banyak yang tidak bisa makan, bahkan tidak sedikit yang harus berjuang setiap harinya untuk membeli sesuapnasi. Krisis sudah melanda, harus ada solusinya.

New normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru?

Jika ditanya mana yang lebih penting: kesehatan atau ekonomi, sudah barang tentu semua akan memilih menjadi sehat dulu. Akan tetapi di satu sisi, bagaimana mau sehat dan menjaga tubuh kalau secara ekonomi kita tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar: makan? Dilema juga kan yah, jadi mau tidak mau harus mengambil suatu pilihan dan langkah tegas untuk menyelamatkan salah satu atau kalau bisa dua-duanya.

Membahas new normal, ini adalah langkah dan keputusan berani yang diambil oleh pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi bangsa ini, baik secara makro maupun mikro. Tujuannya adalah kembali menggerakan roda perekonomian yang nyaris lumpuh selama 3 bulan belakangan ini. Kalau roda ekonomi kembali berputar, mal-mal kembali dibuka, retail kembali bergairah, maka pelaku usaha akan bangkit dan tentunya para pengangguran akan kembali mendapat pekerjaan mereka. Perlahan tapi pasti, denyut nadi ekonomi kembali terdengar lagi, orang yang kelaparan setiap harinya akan berkurang, lapangan pekerjaan akan tersedia kembali.

Tapi kan virusnya masih ada, bahaya donk! Ga bakal melonjak tuh itu kasus Corona?

Inilah yang dinamakan buah simalakama, istilah kerennya maju kena mundur kena, tapi yah apa mau dikata, pilihan terberat saat ini adalah kembali menghidupi kondisi ekonomi dengan berdamai dengan virus, The New Normal.

Sejujurnya, masolo agak kurang sreg dengan istilah new Normal ini, karena sedikit mengingatkan masolo dengan New World Order, tatanan dunia baru, dimana mengarah kepada sebuah tatanan dimana semuanya menjadi satu. Bagus sih, tapi yah gitu cenderung mengarah ke arah apokalipstik, ngeri kan. Makanya masolo lebih suka menyebutnya dengan AKB alias Adaptasi Kebiasaan Baru.

Bukan dunianya yang baru, bukan ke-normal-annya yang baru tapi kebiasaan kitalah yang harus jadi baru. Apa bedanya? beda sangat, klo New Normal, kondisi yang berubah memaksa kita untuk berubah juga, siapapun yg tidak berubah akan mati, semacam hukum rimba yang berlaku: yang kuat yang menang. Sedangkan kalau AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) kitalah yang harus mengubah keadaan, kitalah yg harus aktif beradaptasi, aktif menyerukan dan menyeruakan perubahan, menjadi manusia seutuhnya. Yang satu pasif yang satu aktif, lebih pilih yang mana? Masolo sih pilih yang aktif yaitu AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru).

Kebiasaan apa yang harus diadaptasi selama masa pandemi ini? banyak sekali, mulai dari cara berinteraksi sosial, cara menjaga kebersihan dan kesehatan badan, cara menggunakan transportasi, hingga cara kita bekerja dan menjaga pola pikir.

New normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru?
Protokol kesehatan untuk yang harus tetap bepergian

Berbicara tentang adaptasi ini, tentunya kita punya harapan bersama, yang terutama supaya si virus pergi dari muka bumi, atau tubuh kita punya imun yang luar biasa untuk melawan virus tersebut. Itu dari sisi kesehatan, kalau dari sisi ekonomi sudah tentu mendapatkan kembali pekerjaan, penghasilan dan mimpi-mimpi yg sudah terenggut selama 3 bulan ini. Berharap roda perekonomian bisa kembali berputar dan mengeliat kembali agar kita bisa bangkit dan mengejar ketertinggalan kita selama ini.

New normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru?
Harapan untuk transportasi

Dari sisi transportasi, harapannya kita bisa tetap aman bepergian dengan menggunakan transportasi umum tanpa harus ketakutan dan ketahuan tidak taat. Lho kenapa? yah karena tertib berkendaraan umum harusnya sudah menjadi new habit kita yang baru, tanpa perlu diingatkan, tanpa perlu dihukum. Dengan adanya transportasi yg memadai, nyaman dan membuat kita aman, ditambah dengan perilaku kita yang baru maka sangat mungkin kita bisa menjadi bangsa yang bergerak maju dan lebih beradab terutama dari sisi perilau bertransportasi umum. Bukannya banyak di negara maju sudah memberlakukan hal yang serupa kan yah: lebih baik menggunakan transportasi umum karena lebih nyaman, aman dan cepat sampai tujuan.

New normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru?
Semoga kita bisa hidup normal lagi

Akhirnya harapan dari semua adalah kita bisa bersama menghadapi situasi pandemi ini sebagai suatu bangsa yang kuat dan beradab. Bukan hanya pasif menyerah kepada keadaan new normal, tetapi bisa berperan aktif beradaptasi dan mengubah kebiasaan kita sembari kita menginspirasi orang lain juga untuk berubah. Dari satu inspirasi ke inspirasi lainnya, sehingga secara sadar maupun tidak, kitanya yg berubah, menjadi lebih adaptif dan siap terhadap segala kemungkinan yg terjadi di dunia ini, termasuk berdamai dengan si virus.

Jadi lebih pilih new normal atau adaptasi kebiasaan barukah? silahkan jawab sendiri.

Salam Inspirasi,
Sesuapnasi.

12 thoughts on “New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru?

  1. Semangat hidup New Normal!!
    Ga ada yg salah kok dengan hidup dg kebiasaan hidup yg baru ini..bikin kita jd hidup sehat & memperhatikan kebersihan kan??

  2. Menurutku, keduanya sama : sama2 harus didukung oleh semua pihak dg disiplin dan kesadaran tinggi bahwa kita harus tetap produktif, namun juga tetap aman dari Covid19. Bukankah bgtu, kak?

  3. Halo, Masolo. Aku pun nggak setuju dengan istilah new normal. Ini bisa membawa kita ke alam bawah sadar bahwa kondisi nggak normal saat ini tuh ya normal. Kemudian kondisi normal yang sebenarnya malah menjadi nggak normal. Aku setuju dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru itu. Kan memang kondisi saat ini benar-benar baru dari sebelumnya dan kita diharapkan bisa beradaptasi. Betul begitu, kan?

    Roda perekonomian harus terus bergerak. Aku harap semua masyarakat tetap disiplin sih dalam menerapkan protokol kesehatan. Saat banyak yang abai, di sinilah letak siapa yang kuat dia yang menang akan terjadi dengan cepat.

  4. Merebaknya wabah ini, cukup merubah berbagai kebiasaan dan kondisi. Dan betul kita tak pernah tau kapan kan mereda tapi roda kehidupan mesti berjalan
    Oleh karenanya jalani aktifitas dengan tetap memperhatikan protokol kebersihan dan kesehatan di era new normal ini

  5. New normal berupa adaptasi kebiasaan baru bukan pilihan.. tapi memang harus dilakukan ya.. mau tidak mau.. Semoga dimudahkan dalam menerapkan kebiasaan baru, disiplin,dan pandemi segera usai

  6. entahlah , kalo terkait soal covid ini, di Bengkulu, angkanya terus nambah dan itu makin banyak kalangan yang terkena, mereka bukan saja mengenai yg suka bepergian atau kontak dengan pasien, namun virus ini sudah turun gunung. ini bikin ngeri

  7. Rasanya yg kuinginkan bukan new normal karena itu ga normal yg dinormal2in…aku pingin semua kembali baik seperti dulu dgn kebiasaan perilaku baik yg menetap… Meski ya aku setuju bgt gimana mau sehat mental klo ga bisa menuhin kebutuhan dasar yakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *