Memberanikan diri nonton Merindu Cahaya de Amstel

“Lho, kenapa harus memberanikan diri?”

“Memangnya film Merindu Cahaya de Amstel ini film horror yah?”

Sedikit cerita, akhirnya kami memberanikan diri untuk menonton lagi ke bioskok. Yah sudah hampir lebih dari 2 tahun, eh mungkin lebih yah bisa 4 tahunan. Karena semenjak kami menikah, hamper dipastikan kami berdua tak lagi menginjakan kaki di bioskop. Selain lebih memilih untuk campervan di alam, agaknya bioskop sudah sedikit tergeser dengan adanya kehadiran Netflix dan kawan-kawannya.

Dengan naik commuter line, kami akhirnya menyambangi CGV Grand Indonesia yang ternyata sedang ada GALA PREMIER untuk film Merindu Cahaya de Amstel. Kalau dilihat dari pemerannya sih ini film wajib tonton banget, karena selain ada ada Amanda Rawles (Khadija) dan Bryan Domani (Nicholas Van Dijck) sebagai pemeran utama, ada juga Rachel Amanda (Kamala), Oki Setiana Dewi (Fatimah), Ridwan Remin (Joko) dan pemain lainnya yang turut menyumbang keistimewaan dari film ini.

Memberanikan diri nonton Merindu Cahaya de Amstel

..

“Yang mau nonton ini ga?” Tanya Masolo

“Tapi ini film muslim lho, yakin mau nonton?” balas Mbaolo.

..

Di titik inilah Masolo berpikir cepat, mau atau tidak yah. Jujur yang bikin penasaran karena tempat shootingnya di Amsterdam, Belanda. Tapi di sisi lain ada keraguan karena ini kan film religi, bahkan ada seletingan yang membahas tentang mualaf di film ini. Hmm… nonton ga yah?

Memberanikan diri nonton Merindu Cahaya de Amstel

Akhirnya setelah membulatkan tekad, kami berdua nonton ini. Dag..dig..dug asli, karena ini pertama kalinya lho kami nonton film religi muslim. Oh iyah, FYI Masolo beragama Kristen Protestan dan Mbaolo Katholik, tapi kami sangat menjujung tinggi yang namanya toleransi, jadi hayuk ajah sih klo nonton film yang membahas tentang agama di luar kami. Selain karena toleransi, kami juga mau belajar untuk membuka mata mengenai pandangan agama secara luas sih. Jadi pemikirannya ga sempit.

Back to movie..

Hal pertama yang selalu kami lakukan ketika menonton film adalah “mengkosongkan gelas kami”, artinya tak berekspektasi apapun, tak menerka atau mengira. Intinya pengen menikmati karya sutradara Hadrah Daeng Ratu bersama Maxima Pictures dan Unlimited Productions. Oh iyah buat yang belum tau, film diadaptasi dari novel Arumi E berjudul sama (Merindu Cahaya de Amstel) yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

Memberanikan diri nonton Merindu Cahaya de Amstel

Lupakan sejenak tentang mualaf, lupakan sejenak tentang drama religi, film ini diawali dengan kisah hidup seorang wanita asal Belanda Marien Veenhoven yang akhirnya berganti nama menjadi Khadija Veenhoven. Khadija ini pernah berada dalam lubang hitam kehidupan, dia mencoba segala hal yang menghancurkan dirinya.

Semua yang buruk pernah dia coba sampai Khadija pernah tergeletak tak berdaya di mobil, seperti overdosis narkoba. Sampai akhirnya ada sosok muslimah (Fatimah) yang menyelamatkan dirinya dan mengenalkannya kepada jalan hidup muslim.

“Dulu hidupku bebas sekali, semua hal buruk pernah kucoba.” Begitulah Khadija bercerita pada Nico.

Movie Quote

Yang masolo garis bawahi di sini adalah mengenai perubahan hidup seseorang yang terinspirasi dari kebaikan hati seseorang terlepas apapun itu agamanya. Menurutku, penginjilan/dakwah terbaik adalah melalui hidup kita apa yang kita lakukan sehari-hari, karakter kita, kebaikan hati kita dan juga kedewasaan kita yang mampu menjadi inspirasi bahkan momen perubahan hidup seseorang terlepas apapun itu agamanya.

Ternyata, ini disebut film religi karena ada beberapa orang saja yang melabeli ini dengan drama religi, sejujurnya masolo lebih suka menyebut ini sebagai film inspirasi kehidupan, tentang kisah hidup seseorang yang menemukan Tuhan melalui agama tertentu. Perubahan hidup ke arah yang lebih baik, bagus donk.

Let us talk about love…

Kisah cinta memang selalu jadi hal yang unik dan menarik untuk dikisahkan melalui tulisan ataupun film. Di Merindu Cahaya de Amstel dikisahkan tentang Nicho yang jatuh hati kepada Khadijah melalui pengalaman sederhana tapi tak terduga: Khadijah secara tak sengaja masuk ke dalam lensa kamera Nicho yang adalah Photographer, hahaha.. kebetulan banget yah. Dan yang membuat foto itu menjadi istimewa adalah ada cahaya di sekeliling sosok Khadijah.

Memberanikan diri nonton Merindu Cahaya de Amstel

Dari situlah kisah taksir menaksir dimulai dengan diselingin beberapa drama percintaan juga tentunya: aksi heroic, cinta segitiga dengan sahabat sendiri, saling memendam perasaan, sampai adegan cari-carian di Stasiun. Apa yang bikin beda: Bedanya adalah Nicho memilih untuk berpindah agama alias mualaf.

Yang memang tak bisa dikesampingkan tentang mualaf ini, tapi ada hal yang menarik yang disampaikan oleh sahabat si Nicho yang bernama Joko:

“Kalo lw mau masuk islam hanya karena wanita, gw gamau bantu!!”

Movie Quote

Kata-katanya sederhana, tapi bener lho adanya: banyak yang berpindah dengan alasan ikut pasangan, permasalahannya begitu kecewa dengan pasangan, akhirnya kecewa dengan Tuhan dan pindah lagi, waduh.. jangan ditiru yah!

Belum selesai dengan kegalauan antara cinta dan keyakinan di Nicho dengan Khadijah eh muncul Kamala, sahabat dari Khadijah, yang menaruh hati sama Nicho. Makin seru nih, ga berasa popcornnya sudah habis..hahahha.

No Spoiler please…

Memberanikan diri nonton Merindu Cahaya de Amstel

Hahahhaha, daripada spoiler yah kan, mending kalian tonton sendiri saja filmnya nih, tayang serentak di 250 bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 20 January 2022. Wajib nonton yah, dan seperti kata mas Achi di blog-nya “harus kosongkan gelas”. Selamat menonton dan dukung terus karya anak bangsa.

Salam Inspirasi!

1 thought on “Memberanikan diri nonton Merindu Cahaya de Amstel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *