Kok Ga Ada Sedotan-nya?

Kok Ga Ada Sedotannya

Beberapa hari yang lalu, masolo diperhadapkan kepada pertanyaan: “Kok Ga ada sedotan?” yang intinya tentang kejenuhan dalam kerjaan, bukan, bukan kerjaan kantoran, Tapi kerjaan projek social media management dari sesuapnasi, impian masolo sendiri.

Lho kok bisa impian sendiri tapi jenuh? bisa saja, kalau muncul asumsi dan perspektif yang salah dalam menikmati dan mensyukuri pekerjaan itu sendiri. Begini cerita lengkapnya:

Hari itu hari kamis, jadwal motret dengan klien yang belum ada sebulan. Masolo dipercaya untuk pegang social medianya sekaligus juga jadi photographernya untuk konten. Walau bayarannya tak seberapa, ini jadi klien pertama masolo untuk sesuapnasi. Sebenarnya ini udah jadwal ketiga motret yang artinya sudah tiga minggu berturut-turut. Bedanya, di waktu kali ini, semua hasil motretnya harus dipreview hari itu juga, detik itu juga. Semacam males bin ribet, mana punggung udah mengaduh, jadilah masolo bersungut-sungut. “Mendingan ngerjain socmed sendiri!” Keluh masolo.

Pulang sore dengan kepayahan, tubuh lelah dihajar macet Jakarta, mood sudah berantakan, mana hasil foto juga harus dikirim segera. Selesaikan tanggung jawab dulu lalu segera tidur, karena klo tidak wa akan berbunyi nyaring di pagi hari, lebih nyaring dari suara alarm. Kok jadi seperti bekerja pada korporasi yah, padahal niatannya bikin Sesuapnasi untuk bebas dari hal seperti ini.

Keluhan demi keluhan datang ke hati. Karena tak sanggup lagi menampung, akhirnya masolo tumpahkan ke istri. Mbaolo yang selalu siap menemani curahan hati. Kalimat pertama yang terlontar: “Apa aku cut ajah yah ini klien?”

Kaget bukang kepalang, mbaolo langsung berkata: “Buseet, baru kali ini ada yang ngecut klien, biasanya dicut atau malah lagi berjuang mencari..hahahha.. ayang..ayang..” Simple sih tapi mengena banget kata-katanya. Engga berkomentar lebih lagi, masolo biarkan mbaolo tidur. Sampai terlelap sudah, sedangkan hati masih gundah.

Jam 12 Malam, waktu yang dinanti untuk berdoa atau sekedar membaca mazmur. Seringnya kelupaan atau jadi malas karena keasyikan maen game CODM. Tapi kali ini harus, karena hati tak kunjung mereda. Akhirnya berdoa sejenak, dan aku putuskan untuk baca, Baca Mazmur yang biasa.

Kagetnya, di Mazmur kali ini, ada lebih dari 5 kali kalimat ini diulang: “Bersyukurlah Kepada Tuhan sebab Ia Baik. Bahwasanya untuk selamanya, kasih setiaNya.” Jedeeer… ibarat kepala yang dibenturkan ke tembok, langsung masolo tersadar. Bukan karena kerjaannya atau kliennya, tapi karena masolo kurang dengan yang namanya BERSYUKUR. Tuhan sampa harus bilang 5 kali dengan nats tersebut.

“Ampun Tuhan, aku lupa bersyukur….” Hanya itu kata yang keluar dari doa. Jadi ingat dengan sebuah gambar yang tanpa sengaja dijepret pada saat sedang senggang. Yaps, job yang jarang datang sehingga masolo iseng jepret apa ajah yang ada di dapur. Lah sekarang, sudah ada job pasti, invoice yang bakalan cair akhir bulan kenapa masih mengeluh yah? hhmm…

Oh iyah, kembali ke gambar jepretan masolo. Yaps, gambar yang kalian lihat di atas atau pada saat link artikel ini dibagikan. Gambarnya sederhana, botol kosong, botol isi dijejerin dan sedotan. Yang beda adalah maknanya.

Ternyata foto ini memang ditujukan buat masolo saat ini, semacam pesan masa depan melalui mata lensa, dariku untuk diriku. Maknanya apa? Ada botol isi tapi tanpa sedotan, ada botol kosong dengan sedotan. Artinya, terkadang Tuhan kasih berkat tanpa “Sedotan” alias tanpa cara atau jalan untuk menikmati berkat itu. Kok bisa? bisa donk, karena ternyata Tuhan ingin kita menjadi kreatif, menjadi pribadi yang sabar sekaligus mau berjuang. Kita berusaha mencari cara untuk bisa menikmati “isi” botol tersebut walau tanpa sedotan. Caranya? banyak ternyata, bisa disodok pakai sendok, bisa diseruput langsung dari botol, bisa dituang langung ke piring, atau ditunggu mencari trus minum deh.

Astaga, ternyata itu toh maksudnya. Sederhana tapi bermakna. Ditegur sampa 5 kali lho dengan ayat Alkitab. Dashyat memang Tuhan, karena memang dia ingin anakNya untuk berjuang, karena menjadi seorang entepreneur itu ndak mudah, apalagi ketika harus memberikan rejeki ke orang lain, disaat tabungan kita pas-pas-an. Belajar untuk ga strees, ga bersungut-sungut dan yang terutama memberikan pelayanan terbaik seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia.

Duh Tuhan, maafkan yah anakmu yang suka khilaf ini!

Salam Inspirasi, Sesuapnasi.

21 thoughts on “Kok Ga Ada Sedotan-nya?

    1. Hahahhaha, bener juga yah.. Kesan pertama baca judulnya kayak zero waste, eh ternyata tentang “zero waste” dalam artian bersyukur, tidak membuang-buang kesempatan.

  1. Kesulitan danhambatan pasti selalu ada di setiap pekerjaan kak, terkadang pagi hari kita sudah semangat, eh taunya gara-gara kelakuan client buat mood jadi brantakan. Jadi bad mood sudah tuh seharian, tapi memang salah satu jurus ampuh untuk mengatasi bad mood adalah dengan bersyukur, di saat kondisi sekarang yang kita anggap “susah”, masih ada orang yang jauh lebih “susah” lagi. Intinya melihat ke bawah.

    1. Nah iyah kak setuju, apalagi klo pekerja kreatif seperti kita kan butuh banget nih asupan mood bagus. Cara terbaik naikin mood adalah bersyukur. Karena bersyukur itu indah.

  2. Bagus filosofinya, Mas. Memang nikmat Tuhan yang diberi itu caranya beragam ya. Ada yg pakai sedotan ada yang nggak. Tapi isi tetap sama dan sesuai takeran rejeki masing2.

  3. Pengingat banget nih. Kadang ngerasa “Kok tenaga kek diporsir banget ya.” tiap ngerjain kerjaan dari klien. Pengin yang lebih merdeka lah. Eh tapi semua kan berproses. Jalani aja dulu. Syukuri aja terus. Nanti ada masanya kerja lebih santuy. 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *