Bisnis AYCE: Josss Gandhosss atau Bikin Boncos?

Trend AYCE yang lagi berkembang belakangan ini tentunya membuat senang para pencinta kulineran, apalagi yang nafsu makannya banyak dan porsinya besar seperti masolo ini. Senang? Sudah tentu. Hemat? Apalagi. Repeat order? Absolutely.

Ditengah euphoria dan kegemaran makan AYCE ini masolo terpikirkan sesuatu: kalau harga AYCE ini sedemikian terjangkau, apakah para owner resto AYCE ini tidak merugi yah? Bagaimana perhitungan bisnisnya, cashflow dan laba-ruginya. Berapa lama untuk mencapai titik minimal BEP, dan kapan untungnya apalagi ditambah tingkat persaingan yang tinggi karena demandnya yang sedang tinggi-tingginya.

Pemikiran inipun bersambut ketika masolo share artikel sebelumnya tentang trend All You Can Eat yang lagi booming ini. Dengan sedikit percikan bahasan tentang AYCE, langsung deh terjadi obrolan seru tentang dunia perkulineran terutama AYCE ini. Pertanyaannya sederhana: Apakah bisnis AYCE ini menguntungkan? Seberapa lama untungnya bisa diraup? Seberapa lama bisnis ini akan bertahan? Sejenuh apa pasar yang ada? Hhmmm… mari kita bahas satu per satu.

Apakah Bisnis AYCE ini menguntungkan?

Ada PELUANG karena ada DEMAND

Bisnis AYCE: Josss Gandhosss atau Bikin Boncos?
Bikin Nagih sih kalau makan di AYCE

Berhubung masolo hanya sebagai penikmat, mari kita ubah sedikit sudut pandang tentang resto AYCE ini, dari pelanggan menjadi owner. Mari berandai-andai, kita seorang bisnis owner rumah makan AYCE. Apa hal pertama yang terpikirkan ketika mau membuat bisnis AYCE ini? PELUANG. Yaps betul sekali, peluang sangat terbuka luas di sini. Peluang terjadi karena adanya DEMAND yang tinggi dari para pencinta dan penikmat ALL YOU CAN EAT terutama yang ala ala Korean BBQ.

Kenapa DEMAND bisa tinggi? Agaknya perpaduan antara budaya makan orang Indonesia yang kalap ditambah dengan budaya makan orang Korea makan dengan teknik tertentulah yang membuat demand di AYCE ini tinggi. All you can eat inipun cukup diminati masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besar. Terlihat dari banyaknya orang yang rela membayar harga lebih untuk sebuah room hotel ditambah breakfast yang bias ambil sendiri. Hmmmm… agaknya kalau bicara soal kalap dan nambah, orang Indonesia memang jagonya yah, hahahahahha… apalagi kalo pas kondangan….

Kita Hitung Operational Costnya!

Bisnis Ayce: Jooss Gandhooss apa Bikin Boncos?

Setelah melihat PELUANG dan DEMAND yang cukup tinggi, biasanya naluri bisnis seseorang akan muncul dengan sendirinya. Ada duit tuh berarti di pusaran itu, di bisnis itu, di kumpulan para pelahap daging itu. Mari sekarang kita tengok yang namanya OPERATIONAL COST. Apa saja sih yang menjadi biaya-biaya wajib ketika kita akan masuk bisnis AYCE ini? Oke kita coba list satu per satu.

Dimulai dari Tempat dahulu. Biasanya tempat kita akan sewa, dan mencari di lingkungan yang cukup ramai atau potensial. Bisa di pinggir jalan, ruko atau pujasera yang menjanjikan trafik tinggi ketika jam makan siang. Perlu diperhatikan juga dari sisi parkiran yah, karena sejujurnya banyak orang yang seperti masolo yang ketika parkiran tidak mumpuni, langsung ilfil untuk makan AYCE di sana, walaupun harga terjangkau dan rasa cukup enak. Anggaplah biaya sewa di sebuah tempat rame bilangan BSD adalah 3 Juta per 3 bulan.

Artinya per bulannya Rp 1 juta. Ini adalah sewa standar tempat makan dengan kapasitas 5-7 meja, per meja berisi 2 orang tanpa parkiran luas untuk mobil. Biaya sewa setahun adalah 12 Juta. Beranjak ke kebutuhan utama untuk operasinal yaitu kulkas, buat mengawetkan daging dan bahan bakunya. Anggaplah biaya sewa Kulkas sebulan 100-200 ribu, per tahun jadi 2,4 juta. Beli perlengkapan wajib lainnya adalah kompor, wajan, sendok, garpu piring dan gelas kurang lebih hitungan per meja adalah sekitar 1-2 Juta. Ambil harga tertinggi, investasi awal perlengkapan makan 14 juta. Hmmm… coba kita totalkan FIX COST semua yah: Rp 12 juta + 2,4 Juta+14 Juta = Rp 28,4 Juta per tahun.

Yang terutama: Harga Daging!

Bisnis AYCE: Josss Gandhosss atau Bikin Boncos?
Percayalah! daging sebanyak ini ga sampai 100 grm

Perkiraan Fix Cost sudah dihitung, mari kita beranjak ke Variable Costnya. Apa saja sih yang termasuk Variable costnya? Sudah tentu bahan-bahan makananya seperti daging, sayur mayur, bumbu-bumbu dan lainnya. Anggaplah variable termahal dari komponen ini adalah daging. Dengan pencarian supplier daging yang lumayan irit dan terjangkau, 40 ribu per 500 gr. Anggaplah kebutuhan sehari adalah 10-12 kg dengan asumsi pengunjung yang dating per harinya 10-12 orang, per orang makan 1-2 kg daging. Berarti kebutuhan untuk daging adalah sekitar 800 ribu sampai 1 juta rupiah per harinya. Dengan 30 hari kerja (asumsi setiap hari buka), kebutuhan untuk daging maximal 30 juta per bulan, bisa lebih bisa kurang. Untuk bahan lainnya jelas lebih murah, asumsi di angka 1-2 Juta per bulan. Berarti variable costnya untuk per bulan hitungannya 32 juta maximal. Hhmmm.. lumayan mahal yah kebutuhan dagingnya.

Jadi untung apa rugi?

Dengan asumsi-asumsi biaya di atas, kita bisa coba simulasikan apakah bukan bisnis ini menguntungkan atau merugikan. Sebagai hitungan dasar, kita ambil hitungan per bulan saja yah untuk mudahnya. Dengan total cost yang terdiri dari Operational/fix cost 2.4 Juta ditambah dengan variable cost 32 juta, total costnya adalah Rp 34 juta per bulan. Asumsi pendapatan per hari adalah jumlah pengunjung yang sekitar 10-12 orang per harinya. Dengan rate yang dipatok Rp 99 ribu, pendapatan per harinya adalah Rp 1-1,2 juta. Per bulannya kita coba hitung adalah Rp 36 juta dengan asumsi maksimal pengunjung yang datang per hari adalah 12 orang. Hmmm…. Cost Rp 34 Juta, Income Rp 36 juta. Masih ada untuk 2 Juta sebulan..hhmm.. baiklah, asumsi super kasar ini menghasilkan keuntungan Rp 2 juta per bulan. Masih aman…hahahhaha…

Bisnis AYCE: Josss Gandhosss atau Bikin Boncos?
Ternyata menguntungkan!!

Ga heran ternyata bisnis AYCE ini bertumbuh pesat yah karena memang lagi trend dan hitungan kasarnya bisa mendapatkan keuntungan walaupun sedikit (kurang lebih 7-8 Persen dari total cost). Berdasarkan riset yang masolo perolehpun dari teman ngobrol di wa, bahwa ternyata standar orang Indonesia makan daging itu rata-rata di 300 gr, sedangkan kalau orang korea dan jepang bisa sampai 500gr untuk daging doank. Hmmm… berarti sebenarnya bisnis ini bisa meraup untung yang lebih besar.

Pertanyaan selanjutnya: Tren ini akan abadi atau sementara?

Hahahahahha, duh ileh pertanyaannya, abadi atau sementara, dikata lagu kali yah..hahhahaha. Tapi menurut pandangan masolo sebagai seorang foodblogger tren ini akan tetap bertahan bahkan bertumbuh, lihat saja bisnis AYCE yang dulu ada seperti hanamasa dan sejenisnya mampu bertahan hingga kini. Jadi ibarat mengisi pasar tengah, bisnis AYCE serba murah ini bukanlah competitor dari AYCE premium yang memang sudah bercokol di kelas atas, sebut saja magal, shaburi, kintan dan lainnya. Perkiraan masolo sih tren makan ini akan bertahan paling tidak 2-3 tahun ke depan. Karena trennya bertahan dan menjanjikan, sepertinya pemainnya akan semakin banyak. Bagi penikmatnya tentunya akan diuntungkan dengan banyaknya pilihan harga murah dengan additional value yang cukup baik. Sedangkan bagi para pemainnya atau owner, bisa dikatakan harus lebih memutar otak dan memotong profit untuk bisa memberikan add value bagi customer agar tidak berpindah ke lain hati.

Minat ga nih jadinya?

Jadi berminat ga nih buka bisnis beginian? Atau paling tidak jadi seperti masolo saja, yang jadi spesialis nyobain AYCE murah meriah yang bikin perut keunyaaang dan kolesterol naik..hahahhaha.. Eh iyah bdw, semua post IG dan reviewnya masolo beli sendiri lho, tanpa embel-embel “meminta” atas nama jumlah likes, followers dan postingan. Influencer yang bijak tidak akan meminta-minta, camkan itu..hehehhe…

Bisnis AYCE: Josss Gandhosss atau Bikin Boncos?
Tampak belakang: salah satu owner dari AYCE di daerah Bintaro

Semoga berkenan dengan tulisan masolo kali ini yah, yah sesekali bahas dari sisi bisnisnya, ga melulu bahas soal rasa, harga dan kunyahannya. Semoga berfaedah dan menjadi inspirasi.

 

Salam Inspirasi,

_sesuapnasi

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

5 thoughts on “Bisnis AYCE: Josss Gandhosss atau Bikin Boncos?

    • August 17, 2019 at 3:19 am
      Permalink

      sama-sama kak, siapa tau kan mau ikutan buka bisnis ini 🙂

      Reply
  • August 7, 2019 at 2:40 pm
    Permalink

    Mantaabbb….di bikin skema itungan kasarnya!! Mantabb

    Reply
    • August 17, 2019 at 3:20 am
      Permalink

      Masih kasar banget sih om, tapi yah bisa sekalian belaja juga dibalik makanan yang bikin kita kenyang ternyata menyimpan banyak keuntungan 🙂

      Reply
  • August 18, 2019 at 3:42 pm
    Permalink

    dulu sebelum nikah ya mas, aku kuat makan ayce gini . bisa abis banyaaak,pokoknya ga mau rugilah. tp makin kesini, udh ga sanggub wkwkwkwkwk…

    paling cuma beberapa kali ambil, udh kenyang. jd aku skr makin jrg ke ayce, krn mikirnya rugi. makan dikit, tp hrs bayar segitu. cm kalo kepaksa diajak temen2, yo wislaaah, sesekali :D. kalo makan rame2 gitu ga berasa ruginya, krn salah satu pasti ada yg makannya gila 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *