Panen Udang di Hutan Sosial

Tunggu…tunggu…tunggu…Kok ada yang aneh yah dari judulnya, sebentar masolo mikir sejenak. Panen udang di hutan sosial, udang di hutan, di hutan ada hutan, duh pusing. Ah salah kali ini judul!

Hahahahhahahha, ga ada yang salah kok dengan judulnya. Memang membingungkan, tapi nanti setelah mendengar penjelasan dari tulisan ini semoga ga bingung lagi yah. Awalnya masolo juga bingung ketika mendapatkan undangan special untuk ikutan menghadiri kunjungan kerja dari Bapak Presiden kita Jokowi menghadiri panen raya udang Vaname di desa Pantai Bakti kecamatan Muara Gembong. Nah lho, ini lagi, pantai apa hutan sih, ahh yang bener dong masolo informasinya!

Panen Udang di Hutan Sosial

Apa itu Hutan Sosial?

Biar ga semakin bingung, masolo akan menjelaskan yah mengenai hutan sosial. Seperti tulisan terdahulu mengenai menjaga hutan, tulisan kali ini juga akan membahas mengenai hutan sosial. Hutan sosial sendiri merupakan program dari pemerintah Jokowi.  Program Perhutanan Sosial merupakan program prioritas pemerintah yang memiliki tujuan utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, mengurangi konflik permasalahan lahan di masyarakat dan kedepannya bisa membantu mengatasi kemiskinan. Pemerintah pada periode 2015-2019 mengalokasikan kawasan hutan melalui program Perhutanan Sosial seluas 12,7 juta ha, dengan harapan program ini dapat mewujudkan keadilan Sosial bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan, serta menimbulkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya hutan. Sampai saat ini Program Perhutanan Sosial telah memberikan akses kelola hutan kepada masyarakat seluas seluas 2,5 juta ha, bagi 592.438 KK atau telah memberi manfaat kepada 2,4 juta jiwa masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) merupakan salah satu skema program Perhutanan Sosial yang di implementasikan khusus di Pulau Jawa (Permen LHK. No. 39 Th. 2016), sampai saat ini akses kelola hutan sosial di pulau jawa telah mencapai sejumlah 221 Unit SK seluas 81.431,18 Ha, dengan total keterlibatan masyarakat sebanyak 46.411 KK.

Panen Udang di Hutan Sosial

Nah salah satu daerah yang menjadi bagian dari  lokasi IZIN PEMANFAATAN HUTAN PERHUTANAN SOSIAL (IPHPS) adalah muara gembong di daerah Bekasi, Jawa barat. Muara gembong sendiri adalah bagian utara dari Bekasi, dimana daerahnya merupakan pinggir pantai yang seringnya dilanda oleh banjir ROB yang berkepanjangan ketika air laut pasang. Kenapa masolo tau? Karena waktu masih lajang dahulu, masolo pernah berpetualang ke sana dan explore pantai yang ada di sana.

MENUJU MUARA GEMBONG

Berbekal motor andalan masolo, berangkatlah masolo ke muara gembong menjawab panggilan kerja sebagai blogger. Dengan berbekal google maps, berangkatlah masolo menuju ke Muara Gembong. Awalnya semacam tidak percaya dengan google yang menyatakan bahwa perjalanan menggunakan motor akan memakan waktu lebih kurang 3 jam. Kan Pondok Kopi dekat dengan Bekasi, malahan sudah berbatasan langsung. Akhirnya masolo jalani deh perjalanan panjang ini, melewati perbatasan Jakarta-Bekasi, satu demi satu kabupaten, hingga hamparan sawah di kiri dan kanan. Dan ternyata beneran jauh lho, waktu 3 jam sepertinya bias lebih.

Ini dia Si SUpra XXX yang setia menemani…
Inspirasi di Ujung Bekasi
Tenang, ada plangnya kok… Inget yah Muara Gembong…

Lega akhirnya bertemu plang bertuliskan Muara Gembong yang menandakan masolo tidak salah jalan. Melirik jam sejenak, hhmmm… agaknya harus cepat nih karena sebentar lagi acara akan dimulai. Jangan sampai kehilangan momen bertemu pak Jokowi.

MUARA GEMBONG SEBAGAI IPHPS

Sebagai informasi lokasi IZIN PEMANFAATAN HUTAN PERHUTANAN SOSIAL (IPHPS) Muara Gembong dikembangkan sebagai lokasi Silvofishery dengan Model tambak dan konservasi mangrove. Tambak dikembangkan menggunakan design silvofishery dengan pola komplangan, yakni luas tambak 60% utk tambak budidaya perikanan dan 40% utk konservasi mangrove. Salah satu hasil tambak adalah udang Vaname, dimana dilakukan oleh Kelompok Tani Mina Bakti yang 7 berjumlah 38 KK dengan luas 80,9 Ha. Akses kelola Pehutanan Sosial memberikan ruang kelola kepada 1 orang petani tambak kurang lebih 2 ha. Optimalisasi Pemanfaatan lahan tambak dilakukan dengan cara membuat 2 kolam untuk budidaya masing-masing seluas 4.000 m2, 1 kolam mangrove 6.000 m2, sedangkan sisa lahan digunakan utk jalan, tanggul, dan infrastruktur pendukung tambak (saung dan rumah genset).

Panen Udang di Hutan Sosial

Udang Vaname

Udang Vaname sendiri atau Litopenaeus vannamei memiliki nama lain Pasific white shrimpWest coast white shrimp dan Camaron blanco langostino. Lebih dikenal di Indonesia dengan nama udang kaki putih, udang yang sering hadir di freezer rumah kita dan yang sering hadir di masakan sebagai udang goring tepung, atau yang khasnya di nasi goreng seafood.

 

PAK JOKOWI MEMANEN UDANG VANAME

Suatu kehormatan bisa melihat Pak Jokowi ikut serta dalam panen raya udang Vaname di kawasan Hutan Sosial di Muara Gembong ini. Pak Jokowi yang hadir ditemani dengan Ibu susi pudjiastuti selaku menteri kelautan dan juga Ibu Siti Nurbaya Bakar selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Keseruan terjadi ketika Pak Jokowi bersama dengan Ibu Susi mengangkat jala yang sudah berisi udang Vaname yang gemuk-gemuk. Sama seperti masolo yang kegirangan, nampaknya udang yang dipanen oleh pak Jokowi juga bersorak kegirangan. Saat Jokowi mengangkat jala, terlihat tumpukan udang jenis vaname yang luar biasa banyaknya. Beberapa udang meloncat. Jokowi lantas mengutip udang yang tercecer di luar. Satu persatu dia masukkan ke dalam ember.

Panen Udang di Hutan Sosial

Di Muara Gembong, tempat Jokowi memanen, terdapat 10 kolam budidaya seluas 2,8 hektare dan 7 kolam di antaranya ditebar 594.884 benih udang. Pada budidaya siklus ke-2, penebaran dilaksanakan 1 November 2018 dan dipanen raya hari ini. Berdasarkan hasil panen percobaan udang Vaname pada tanggal 22 Juli 2018 di lokasi yang sama menghasilkan 6,5 Ton/Ha dengan harga @Rp 73.000/Kg. Dengan kata lain, pendapatan dari budidaya Udang Vaname di kawasan hutan sosial Muara Gembong diperkirakan mencapai Rp 317.550.000 per hektarnya. Wuaah, lumauan banget untuk menaikan perekonomian masyarakat sekitar.

 

MASIH BINGUNG: “PANEN UDANG DI HUTAN SOSIAL?”

Jadi siapa yang masih bingung nih: “kok panen raya udang di hutan sosial?” Secara singkat jadinya begini yah, jadi udang ini adalah hasil dari budidaya masyarakat yang disebut Kelompok Tani Mina Bakti di kawasan Hutan Sosial. Hutan sosial yang dimaksud disini adalah suatu kawasan  yang masuk ke dalam Program Perhutanan Sosial yang adalah Program Prioritas Pemerintah yang memiliki tujuan utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan, mengurangi konflik permasalahan lahan di masyarakat dan kedepannya bisa membantu mengatasi kemiskinan. Kenapa kawasan Muara Gembong masuk atau dapat disebut sebagai hutan sosial? Karena ternyata di Muara Gembong ini ada Hutan Manggrove yang menjadi tanaman pelindung bagi kawasan pesisir. Nah kawasan hutan mangrove inilah yang pemanfaatannya juga digunakan untuk membantu perekonomian rakyat di sekitar Muara Gembong, yaitu dengan program Tambak Udang Vaname.

Panen Udang di Hutan Sosial

Jadi logika sederhananya seperti ini: Hutan mangrove di Pantai dijadikan hutan sosial dimana sebagian lahannya dipergunakan untuk program Tambak Udang Vaname yang dikelola bersama dengan masyarakat sekitar dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat yang ada di situ. Kalau menurut masolo sih ini solusi banget bagi massyarakat sekitar sekaligus juga bagi ekonomi sosial. Secara makro maupun mikro dapat tersentuh melalui program Hutan Sosial ini.

Panen Udang di Hutan Sosial

Solusi cerdas dari Pak Jokowi, terima kasih pak Jokowi. Salam dari sesuapnasi yang ada dipojokan yah.

Salam inspirasi,

Masolo

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *