Menjaga Hutan, Menjamin Masa Depan!

Alkisah ada dua buah primata, sedang bermain sekaligus menjaga hutan tempat tinggalnya. Hutannya hijau, indah dan luas. Seketika salah satu primata bertanya kepada yang lainnya: “Kamu lapar?”…..“Iyah” sahut yang lainnya. Segera mereka mencari makanan untuk mengganjal perut mereka.

Jauh mencari ke sana dan ke sini, mereka tak menemukan jua makanan. Sampai pada akhirnya, mereka menemukan sebuah pisang yang sudah terjatuh ke tanah. Kedua mata mereka melotot seketika, diselingin dengan suara perut yang sedari tadi sudah berbunyi.

Dua primata itu berpandangan, seakan-akan berbicara melalui mata mereka. Hhhmmmmm… mungkin jika mereka manusia, sudah tentu artinya adalah “ini milik saya!”. Tapi untungnya mereka primata, tanpa disuruh, satu sama lain mempersilahkan kawannya untuk mengambil pisang tersebut. Karena keduanya saling mempersilahkan, justru tidak ada yang mengambil pisang itu.

Menjaga Hutan Menjamin Masa Depan
Untung Mereka Primata!

Mereka berdua tertawa, dan akhirnya membagi pisang itu menjadi dua, satu untuk kawannya, satu untuk dirinya. Sekali lagi: UNTUNG MEREKA PRIMATA, BUKAN MANUSIA!

Maapkan kalau kali ini masolo membuka tulisan ini dengan sebuah cerita sarkastik. Kenapa harus begitu? Karena banyaknya hewan lebih manusiawi dari manusia, dan manusia lebih hewani daripada hewan. Kenapa begitu? Seringnya dengan tega manusia merusak tempat tinggal para hewan ini, yap masolo berbicara mengenai hutan.

Hutan dirusak, dirubah menjadi perkebunan sawit. Hutan dibabat dirubah menjadi sebuah villa megah dengan fasilitas mewah yang seakan menyatu dengan alam (padahal merusak!) Hutan digunduli hanya untuk membuat tebal kantong sesaat dengan menyerahkannya kepada pembalak liar. Giliran hujan tiba, hutan sudah lenyap dan meninggalkan malapetaka.

Pentingnya Hutan Indonesia

Percayakah kamu bahwa hutan di Indonesia disebut sebagai paru-paru dunia? Hutan Indonesia merupakan hutan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis dan sumbangan dari hutan hujan (rain forest) Kalimantan dan Papua. Menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah lembaga independen pemantau hutan Indonesia, sejumlah 82 hektare luas daratan Indonesia masih tertutup hutan. Selain memiliki dampak terhadap ekosistem, ternyata hutan juga berdampak langsung terhadap penduduk yang tinggal di sekitarnya. Mereka ini masuk ke dalam kategori miskin sehingga sangat bergantung sekali kepada hutan, dan tanpa sadar merusaknya. Setidaknya 25.800 desa dengan jumlah penduduk sekitar 30 juta orang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan. Program Hutan Sosial adalah jawaban Presiden untuk mensejahterakan masyarakat yang 70% diantaranya menggantungkan hidupnya kepada keberadaan dan kelestarian kawasan hutan.

Menjaga Hutan Menjamin Masa Depan
Pentingnya Hutan Kita!

Melihat begitu pentingnya dampak hutan terhadap ekosistem terutama kehidupan sosial penduduk di sekitarnya membuat pemerintah Joko Widodo mencanangkan program perhutanan sosial untuk meningkatkan tingkat hidup masyarakat di sekitar hujan tersebut. Kelompok masyarakat dapat memanfaatkan hutan secara legal sekaligus melestarikannya untuk anak cucu mereka. Tidak tanggung-tanggung, pemerintahan Joko Widodo menargetkan 12,7 Juta Hektare area yang masuk ke dalam kategori perhutanan sosial pada tahun 2015-2019. Hingga November 2018 ini, target yang sudah tercapai adalah 2,13 Juta hektare atau sekitar 16,8 persen.

Diskusi Tempo bersama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI

Pada kesempatan kali ini, masolo mendapat undangan untuk menikmati alunan musik ala Endah n Rhesa di bawah rimbunnya hutan kota yang ada di Arboretum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dimana ditumbuhi kurang lebih 300 jenis pohon. Kebayang kan merdu dan nikmat diskusi ini. Bukan kebetulan masolo hadir di sini, karena ternyata Tempo Media bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mengadakan diskusi dengan tema “Refleksi Hutan Sosial 2018” dialog dengan Tokoh Hutan Sosial TEMPO 2018.

Menjaga Hutan Menjamin Masa Depan
Dibuka dengan Penampilan Endah ‘n Rhesa
Menjaga Hutan Menjamin Masa Depan
Sudah Hadir Ibu Meteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sebelum melangkah lebih jauh, Ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, menyampaikan bahwa hutan sosial adalah jawaban untuk masyarakat di desa, desa hutan dan sekitarnya. Sembari menjaga hutan, bisa juga memajukan perekonomian masyarakat, cerdas kan yah?

Mengapa harus hutan sosial ?

Hutan Sosial merupakan sebuah program nasional yang digagas oleh pemerintah yang bertujuan untuk melakukan pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan ekonomi melalui tiga pilar, yaitu: lahan, kesempatan usaha dan sumber daya manusia. Program perhutanan sosial ini merupakan program yang membuat masyarakat bisa turut mengelola dan menjaga hutan secara legal dan bisa mendapatkan manfaatnya secara ekonomi. Jadi melalui program ini pemerintah memberikan hak secara legal kepada masyarakat untuk mengelola hutan yang ada untuk kemakmuran tanpa merusak hutan tersebut, sekaligus untuk menepis ketakutan masyarakat yang selama ini menghadapi banyak kesulitan ketika hendak memanfaatkan area hutan di sekitar tempat tinggal mereka.

Bu Menteri Menjelaskan ” Mengapa harus Hutan Sosial?”

Para pelaku yang terlibat dalam pengelolaan serta menjaga hutan melalui program Perhutanan Sosial ini merupakan asli warga Negara Republik Indonesia yang tinggal di kawasan hutan, atau di dalam kawasan hutan negara, yang keabsahannya dibuktikan lewat Kartu Tanda Penduduk, dan memiliki komunitas sosial berupa riwayat penggarapan kawasan hutan dan tergantung pada hutan, dan juga aktivitasnya dapat berpengaruh terhadap ekosistem hutan.

Begitu pentingnya makna hutan sosial inilah yang membuat Tempo Media merasa perlu memberikan penghormatan dan penghargaan terhadap Tokoh Hutan Sosial 2018. Turut hadir di acara ini adalah Bapak Budi Satyarso selaku Pemimpin Redaksi Koran TempoBapak Bambang Supriyanto selaku Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK, Bapak Didik Suharjito selaku Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, serta ada Bapak Bagja Hidayat selaku Redaktur Pelaksana Tempo yang menjadi moderator dalam acara ini.

Menjaga Hutan Menjamin Masa Depan
Diskusi Tempo: Refleksi Hutan Sosial

Tokoh Hutan Nasional 2018

Yang membuat takjub masolo adalah dihadirkannya juga 9 tokoh hutan nasional yang telah terpilih berdasarkan berbagai kriteria dan seleksi Tempo Media. Selain menjaga hutan, mereka juga berupaya untuk mewariskan hutan ke anak cucu mereka. Menurut Bapak Budi Satyarso selaku Pemimpin Redaksi Koran Tempo ada beberapa aspek yang menjadi dasar penilaian dan pemilihan para tokoh ini diantaranya adalah:

  1. Kepahlawanan yaitu kehadiran tokoh yang mampu mengubah keberadaan hutan tetap lestari namun juga mampu mengolahnya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Sebagai salah satu contohnya pengelolaan Kalibiru menjadi objek wisata yang dalam setahun bisa meraih pendapatan hampir 5 miliar.
  2. Konsistensi yaitu kelompok hutan sosial ini diawali oleh satu atau dua orang, lalu melakukan pendekatan kepada masyarakat luas secara terus menerus agar sama-sama mau menjaga dan mengelola hutan yang ada, serta patuh dengan segala peraturan yang ada minimal 5 tahun.
  3. Kolaborasi yaitu harus ada kekompakan yang solid, karena ini merupakan kerja kelompok yang digerakan bukan hanya masyarakat sebagai pelakunya, namun juga dibantu oleh pendamping, dan berbagai pihak lainnya sehingga bisa tumbuh lebih maju dari kelompok-kelompok yang lainnya.
Menjaga Hutan Menjamin Masa Depan
Para Tokoh Hutan Sosial 2018 Pilihan Tempo Media

Berdasarkan ketiga aspek tersebut, keluarlah beberapa nama dan daerah yang dinyatakan layak untuk dijadikan tokoh hutan sosial 2018 untuk dapat menjadi teladan dan inspirasi untuk daerah lainnya. Mereka adalah:

  1. KTH Mandiri Kalibiru, Hutan Kemasyarakatan, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.
  2. Gapoktan Rimba Lestari, Hutan Kemasyarakatan, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
  3. KTH Mitra Wana Lestari Sejahtera, Hutan Kemasyarakatan, Kabupaten Lampung Barat, Lampung.
  4. Kelompok Tani dan Nelayan Mangrove, Hutan Kemasyarakatan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
  5. LPHD Bentang Pesisir Padang Tikar – Batu Ampar, Hutan Desa, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
  6. LPHN Jorong Simancuang, Hutan Desa, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.
  7. LMDH Wono Lestari, Kemitraan Kehutanan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
  8. Hutan Adat Tembawang Tampun Juah, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
  9. Hutan Adat Marena, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Bangga rasanya bahwa masih ada manusia yang ternyata mau untuk menjaga hutan demi kepentingan bersama. Tidak serta merta dibutakan oleh rasa lapar dan haus akan uang semata. Nyatanya, dengan segala upaya dan kesadaran moral, pada akhirnya masyarakat sekitar hutan sadar betapa pentingnya fungsi hutan bagi mereka. Harapannya supaya hutan mereka dapat terus terjaga sampai ke generasi-generasi berikutnya.

Menjaga Hutan Menjamin Masa Depan
Menikmati semesta apa adanya.

Saran masolo nih yah, coba deh main-main ke hutan bukan untuk selfie semata, tapi untuk menjadi pencinta sekaligus penjaga alam yang dengan rela hati menjaga hutan. Cara paling sederhana yah tidak membuang sampah sembarangan dan merusak hutan. Kalaupun ada keinginan untuk mendaki dan menjelajah hutan, yah harus bijak untuk belajar menjadi pendaki yang peduli dengan alam, bukan merusaknya.

Hutan milik semua, Hutan untuk semua. Mari kita menjaga hutan!

 

Salam lestari,

Sesuapnasi

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *