Mimpi Vs Reality (curhatan seorang travelife blogger)

“Terkadang realitas itu tidak semanis mimpi, ada banyak tagihan-tagihan yang menanti.”

Begitu tulis masolo dalam sebuah pesan whatsapp kepada seorang teman untuk meminta informasi mengenai kerjaan. Kalau dibaca secara seksama, ada nada pesimis yang telintas di kalimat tersebut, mungkin lebih tepatnya pesimis bercampur takut dan khawatir.

Khawatir bahwa mimpi yang sedang masolo kejar mulai dari Juni tahun ini tidak bisa menjadi tumpuan hidup bukan hanya bagi masolo tetapi juga bagi keluarga masolo. Bahkan saking takut dan khawatirnya, sebuah pesan singkat sengaja masolo tuliskan pada komen seorang blogger yang berbagi tips untuk menjadi seorang blogger professional, isinya seperti ini :

“Mungkin tidak yah blogger menjadi sebuah profesi bagi seorang lelaki yang menjadi tumpuan ekonomi bagi keluarganya?”

Makin terdengar miris yah. Miris dan sedikit menangisi keputusan untuk resign dari pekerjaan yang telah sukses mengisi dompet dan tabungan di kala muda. Bayangkan sebuah keputusan berat melepas pekerjaan yang bergaji dua digit hanya demi mengejar mimpi sebelum berumahtangga. Konyol? Riskan? Bodoh? Entahlah.

Bahkan mbaolo sendiripun bilang bahwa hal tersemprul yang masolo lakukan adalah resign di saat lagi butuh-butuhnya duit menjelang pernikahan. Kalau mental mbaolo ga sekuat baja mungkin udah mbaolo tinggalkan itu si masolonya sedari dahulu, hahahahahahahaha.

Terus, apakah masolo tetap pada jalurnya mengejar mimpi? Atau putar haluan mencari pekerjaan demi sesuapnasi?

Jawabannya masih belum bisa dijawab. Mengutip bahasa novel, mungkin jawabannya masih “Entahlah….” Kok entahlah? Kenapa ga bisa cepat mengambil keputusan secepat waktu masolo resign dulu? Tiga bulan yang lalu kan?

Bedanya kalau dahulu masolo masih berstatus belum nikah sehingga apapun keputusan yang masolo ambil kelak masolo akan pertanggungjawabkan sendiri. Ini mimpi masolo sendiri, ini keinginann masolo sendiri, walaupun sudah dikomunikasikan ke pacar (yang sekarang sudah jadi istri), tetap saja sifatnya hanya mengetahui dan menyetujui, bukan berkompromi. Nah sekarang kan ini cincin udah melingkar di jari manis masolo, jadi bukan lagi aku tapi kami, bukan lagi mimpi pribadi tetapi mimpi bersama. Apalagi ditambah tagihan bulanan yang sifatnya harus dibayarkan. Hmmmm… rasa-rasanya inilah keadaan yang diucapkan kepada pasangan yang baru menikah “Selamat menempuh hidup baru”. Semua serba baru dan berubah, tanggung jawabnyapun bukan hanya ke diri sendiri tetapi kepada sebuah keluarga, keluarga baru masolo.

Mimpi Vs Reality (curhatan seorang travelife blogger)
Berpikir Kembali

Okeh, jadi sepertinya beberapa hari ke depan masolo akan merenungkan kembali sembari ngobrol bersama isrti, apakah menjadi Digital Storyteller (read: Blogger) yang notabene bebas waktu tapi belum bebas financial sesuai dengan mimpi masolo, atau kembali menjadi pengabdi klien (Read: AE) dengan gaji bulanan yang cukup menjamin tapi tidak bebas waktu alias selalu pulang malam dan lembur terus. Well sekali lagi, hidup adalah sebuah pilihan, dan kembali lagi masolo diperhadapkan kepada sebuah pilihan sulit: memilih yang terbaik dari yang baik, memilih mimpi sendiri atau mimpi bersama.

Komunikasi

Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi cara terbaik dalam perenungan kali ini adalah KOMUNIKASI. Kenapa komunikasi menjadi penting, karena masolo sudah dua menjadi satu, bukan lagi sebuah individu dengan sikap egonya sendiri. Apapun hal yang mengganjal di hati dan pikiran harus segera masolo komunikasikan kepada pasangan. Paling tidak supaya pasangan bisa mengerti apa yang membuat masolo murung dan sering marah belakangan ini. Harapannya adalah pasangan bisa memberikan solusi terbaik yang tidak menuntut atau mendikte masolo untuk melakukan sesuatu. Pasangan terbaik adalah pasangan yang mampu memberikan solusi tanpa memaksa atau menuntut supaya solusinya dikerjakan secepatnya.

Akal Sehat dan Iman

Hal kedua terbaik adalah PERTIMBANGAN AKAL SEHAT DAN IMAN. Ini dia fase sulitnya, karena ketika du hal ini diperhadapkan, agaknya sulit untuk tidak mempertankan satu sama lain. Iman tanpa akal sehat dan perbuatan jadinya hanyalah sikap ekstrim tanpa memperdulikan kenyataan yang ada. Sedangkan Akal sehat tanpa iman jadinya hanyalah tunduk dan pasrah pada realitas bahwa manusia butuh uang, yang seringnya berujung menjadi hamba uang. Cara terbaik untuk menentukannya adalah dengan DOA. Karena doalah cara untuk mendapatkan jawaban terbaik dari Sang Pencipta, bahasa kerennya adalah sarana untuk meminta kisi-kisi dari yang Maha Pemberi. Dan sekali lagi yang perlu diingat adalah doanya berdua bersama pasangan (istri), karena doa bersama selalu menjadi cara yang ampuh bagi kami berdua untuk menenangkan jiwa, sekaligus mendapatkan jawaban dari permasalahan yang ada contohnya persiapan pernikahan kemarin.

Mimpi Vs Reality (curhatan seorang travelife blogger)
Terpana karena Quote bajunya.

 

Akhir kata dimanapun kalian para blogger, konten kreator dan freelancer berada, semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kalian di luar sana yang mungkin juga sedang diperhadapkan kepada sebuah dilema yang sama, dengan jawaban yang belum datang jua. Percayalah bahwa ketika kita sudah memutuskan untuk memulai sesuatu dengan meminta petunjuk Tuhan, maka Tuhan pasti bantu dan menyertai, hanya saja waktunya yah tergantung Tuhan, kan Dia yang Maha Tau.

Salam Inspirasi,

Sesuapnasi.

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

One thought on “Mimpi Vs Reality (curhatan seorang travelife blogger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *