#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki

“Apa yang terlintas di benakmu ketika kita berbicara mengenai surga?”

Ketenangan, kedamaian, keabadian dan segala keindahan yang terangkum di dalam satu kata, yaitu surga. Ada yang bilang bahwa untuk mencapai surga kita harus banyak berbuat baik, menimbang dan mengukur besarnya pahala yang kita hasilkan untuk mencapai titik tertentu. Ada juga yang bilang bahwa surga adalah nirwana yang tercapai ketika kita behasil naik ke dalam tingkatan hidup yang tertinggi. Yang lainnya berkata adalah surga adalah anugrah yang diberikan ketika kita sudah menerima sebuah iman dan percaya kepada Satu Pribadi yang telah memberikan kasih yang paling terbesar yang rela mengorbankan dirinya untuk menebus umat manusia.

Apapun dan bagaimanapun cara untuk mencapai dan menggapai surga bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh iman, tekad dan perjuangan yang senantiasa ditapaki satu per satu. Butuh langkah-langkah sederhana dan kecil untuk mencapai hal yang besar, termasuk surga. Butuh peluh yang tercurah untuk memaknai perjalanan-perjalanan hidup di dalamnya. Dan pada akhirnya, surga adalah semacam hadiah dan pencapaian tertinggi ketika kita berhasil dalam ujian tersebut.

Lantas, apa itu surga bagi para pendaki, apa makna di dalamnya, dan bagaimana cara mencapainya? Agaknya dari para pendaki sepakat bahwa surganya para pendaki terletak di sebuah gunung yang menjulang tinggi di dataran Jawa, bahkan bisa dikatakan gunung tertinggi di Jawa dengan ketinggian 3676 MDPL… Yap surga itu bernama Semeru.

Perjalanan kali ini cukup bermakna bagi Mas Olo, karena ini adalah pertama kalinya berangan-angan untuk menggapai atap Jawa. Dengan keinginan disertai niat dan tekad yang matang, Mas Olo berinisiatif untuk menggagas perjalanan menuju atap jawa sekaligus untuk menemukan surganya para pendaki. Dengan berbekal internet dan uang secukupnya, niatan itu menjelma menjadi SIMAKSI SEMERU dan TIKET KERETA MATARMAJA.

Tadinya ada sekitar 10 orang yang mau ikut untuk mendaki atap Jawa sekaligus menemukan surganya para pendaki, namun karena satu dan lain hal, pada akhirnya hanya kami berempat yang hadir di peron stasiun Senen di mana kereta Matarmaja sudah siap untuk mengantar kami ke Malang. Dengan kekuatan tekad dan kebulatan hati, kami (Mas Olo, Gerry, Josh dan Adit) siap mendaki Semeru.

STASIUN MALANG LANJUT KE PASAR TUMPANG

Perjalanan pertama adalah menuju ke kota Malang, kota yang terkenal dengan apelnya yang menawan, sekaligus udara  sejuknya yang akan membuat siapapun yang berkunjung kesana akan betah berlama-lama. Kami sampai di Stasiun Malang pukul 07.00 pagi, dengan perut yang sedikit menggemakan keroncong, kami bergegas menuju tempat makan terdekat, untuk mengisi perut kami.

Setelah kenyang, kami berembuk untuk melanjutkan perjalanan kami menuju ke Pasar Tumpang, sebuah awal dari perjalanan panjang menuju atap jawa. Dengan berbekal mencarter angkotan umum setempat, kami segera menuju Pasar Tumpang. Di pasar tumpang, kami mencari kenalan kami yang sudah menyediakan jeep yang akan kami naiki menuju jalur pendakian Semeru. Karena jalur yang cukup menanjak dan berkelak-kelok, sangat disarankan untuk menuju ke sana harus menggunakan jeep atau mobil pickup yang biasanya mengangkut sayur (kami menyebutnya mobil sayur). Sangat tidak disarankan membawa motor menuju jalur pendakian, karena beberapa berita telah memberitakan bahwa ada motor yang kecelakaan jatuh ke jurang karena mendadak remnya blong setelah pulang dari Semeru. Jadi lebih baik menggunakan jeep atau mobil sayur. Oh iya, jalur menuju titik awal pendakian Semeru sama dengan jalur menuju Gunung Bromo, karena memang kedua gunung ini bersebelahan satu sama lain. Jadi sebelum menikmati Semeru, kami berhenti di suatu titik yang memperlihatkan sisa-sisa kemegahan bromo beserta lautan pasir yang ada disana.

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Bersiap Menuju Ranupani

 

GERBANG PENDAKIAN

Sesampainya di gerbang pendakian, hal wajib yang harus dilakukan adalah melapor kepada posko pendaftaran. Walapun pendaftaran sudah dilakukan melalui online, akan tetapi diwajibkan untuk tetap melakukan pendataan ulang, hal ini dimaksudkan untuk mendata semua pendaki yang naik ke Semeru, agar jelas data diri serta jumlah orangnya dan seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan di atas (hilang atau tersesat) relawan dapat melakukan pencarian berdasarkan data diri yang tercatat (atau untuk melaporkan ke keluarga/rekan terdekat).

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Lapor: Mas Olo dan kawan-kawan siap mendaki…

Setelah melakukan pendaftaran ada briefing sejenak yang berisi wejanga agar berhati-hati di Semeru, tidak membuang sampah sembarangan, tidak berenang di Ranukumbolo, tidak memetik eidelweis, dan tidak membuat api. Logistik kamipun juga dicatat dan diharapkan untuk membawa sisa/sampah logistik lagi kembali ke posko. Yah walapun kelihatannya ketat, tapi hal ini cukup membantu untuk tetap menjaga dan melestarikan alam Semeru di tengah banyaknya pendaki yang mencumbui Semeru.

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Bersiap Menuju Semeru

Pendakianpun dimulai, dengan gerbang besar bertuliskan selamat datang ke Semeru, kami menapaki satu demi satu langkah kami untuk menuju atap jawa dan menemukan surga di dalamnya. Hal menarik ketika kita mendaki adalah kita akan berhenti untuk mengitung setiap langkah kita dan berhenti untuk bertanya “masih jauh yah?” ketika kita sudah menemukan ritme dan makna dalam perjalanan kita.

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Lelah? istirahat dulu ajah sebentar…

Menikmati setiap langkah kaki adalah mutlak untuk dipenuhi, sedangkan di lain sisi, rasa keluh dan bosan mutlak harus dihindari. Karena perjalanan ini adalah bagian dari melatih ego diri dan menemukan surga sebagai tempat, maupun surga di dalam hati. Dan benar saja, untuk menemukan surga itu bukanlah hal yang mudah, tapi juga tidak sulit jikalau kita mau melakukannya dengan berbesar hati. Setapak demi setapak sudah dilalui, waktupun sedikit demi sedikit beranjak pergi, hingga malam menjelang, kami belum menemukan tempat peraduan dan surga itu, walaupun sedikit cemas, tapi tidak sekalipun kami menyerah, karena tekad kami sudah bulat, untuk mencapai atap Jawa dan menemukan surganya para pendaki.

RANUKUMBOLO, SEPERTI SURGA…

Menjelang malam, di dalam keheningan, sayup sayup kami mendengar percikan air. Dengan berbekal headlamp dan lampu senter di tangan kami menapaki jalur yang sudah mulai mengecil dan tidak terlihat jelas. Yang cukup menghibur kami adalah langit di atas cerah dengan pesona bulan purnama. Cahaya yang senantiasa menerangi  kami dan menghibur kami. Pada akhirnya, kami melihat sumber bunyi percikan tersebut, sebuah danau yang lebar, gelap pekat, air yang sedikit bergemericik serta hembusan angin dingin malam yang bergesekan dengan permukaan danau membuat suara tipis nan merdu. Selamat datang di RANUKUMBOLO, Surganya para Pendaki. Dan malam ini, di dalam pekat dan dingin yang menusuk kulit, kami mencoba untuk menikmati surga di balik tenda kami. Sembari mengistirahatkan badan dan kaki, pada akhirnya kami terlelap di dalam Surga. Surga di bumi, surga di hati, surga di mimpi, hingga pagi menjelang…

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Pagi di Ranukumbolo

 

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Kopi Pagi di Ranukumbolo

 

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Matahari Sudah Beranjak Naik

MELANJUTKAN PERJALANAN…

Berbahagialah mereka yang sudah melihat surga tapi tetap berjuang untuk menggapai atap Jawa. Sesungguhnya godaan terbesar ketika menikmati pagi di Ranukumbolo, surganya para pendaki, adalah ingin terus berada di sana untuk menikmati setiap paginya. Istilah kerennya gagal move on, nggak ingin melanjutkan perjalanan, inginya tinggal di Ranukumnolo untuk menikmati hamparan pagi di hari selanjutnya.

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Saatnya Melanjutkan Perjalanan

 

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Bersiap Membulatkan Tekad

Tapi dengan kebulatan tekad kami, pada akhirnya kami melanjutkan kembali perjalanan untuk menggapai atap Jawa. Di perhadapkan dengan tanjakan cinta yang menjulang nyata, nyali kami tidak akan pernah ciut. Oh iya ada sedikit mitos mengenai tanjakan cinta, bagi siapapun yang berhasil menaikinya tanpa menoleh ke belakang sembari memikirkan wajah serta menyembut nama orang yang dicinta (atau digebet) niscaya cintanya akan bertahan lama, selama keabadian. Penasaran Mas Olo memikirkan dan menyebut nama siapa? Rahasia…hahhaahhaahaha…

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Oro-Oro Ombo

 

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Jambangan, Semeru mulai mengintip Manja

 

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Kalimati

Kalimati, tempat kami mendirikan tenda lagi untuk mengistihatkan badan sebelum kami menggapai puncak Semeru. Dari kalimati ini Gunung Semeru sudah terlihat gagah berdiri, melihat setiap pendaki yang memiliki mental baja untuk mencapai Puncak Sejati di Semeru. Oh iyah, sebenarnya kalau dari posko pendaki hanya boleh sampai batas ini saja yaitu Kalimati, karena dirasa terlalu berbahaya untuk menuju Puncak Semeru. Tapi namanya niat, yah walau badai menghadang akan tetap berjuang untuk menggapai tujuannya tersebut, hanya saja harus dibekali dengan pengetahuan akan bahaya yang menghadang serta cara menghadapinya. Nah karena itu, kami beristirahat sembari mengisi perbekalan kami untuk bersiap naik ke puncak nanti malam.

SUMMIT ATTACK

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Bersiap Menuju ke Puncak

Summit Attack, kami lakukan pada pukul 23.00 WIB, kami mempersipkan segala sesuatu termasuk perbekalan minuman, makanan, headlamp, pakaian tebal, serta niat dan tekad. Perkiraan perjalanan memakan 4-5 jam, sehingga target kami adalah melihat sunrise di puncak Semeru. Tapi apa daya, karena jalur yang ternyata cukup dashyat dan kelelahan yang menghadang, kami terpencar menjadi 2, dan Mas Olopun pada akhirnya baru sampai puncak jam 10.00 Pagi.

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Semangat terus Brader Jos…

Benar adanya informasi mengenai jalur menuju puncak Semeru yang akan dihiasi dengan pasir dan batu-batu besar yang dalam sekejap waktu bisa meluncur turun dengan kecepatan maksimal. Dengan adanya jalur pasir, 3 langkah bagi kami berarti 2 langkah turun ke bawah, sehingga kami menjadi mudah kelelahan dan memakan waktu yang lebih lama. Nah yang sering membahayakan adalah seringnya para pendaki latah menginjak batu yang dianggapnya cukup kuat menopang berat badannya, padahal batu itu bisa runtuk dan jatuh ke bawah dengan kecepatan maksimal.

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Pemandangan Bagus tapi treknya mengancam jiwa, harap berhati-hati…

Nah fenomena ini benar-benar Mas Olo rasakan ketika berada disana, entah karena diinjak atau karena longsong, sebuah batu sebesar mobil meluncur turun ke bawah dengan kecepatan masimal. Setelah terbentu dengan batu lain, batu itu pecah menjadi dua dan tetap meluncur turun menuju ke bawah dengan kecepatan maksimal. Untungnya Mas Olo berada di sebelah kanan dari jalur, sehingga terhindar dari batu tersebut. Malangnya, karena berada di jalur yang searah dengan batu terebut, dan tidak dapat menghindar, ada 2 pendaki yang terkena batu tersebut, yang cowo terkena di pergelangan kakinya, sedangkan yang wanita terkena di punggungnya. Benar-benar bahaya di depan mata, dan Mas Olo sangat bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup dan tanpa terluka sedikitpun.

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Mahameru, Puncak Para Dewa…

 

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
3676 MDPL

Mahameru, Puncaknya semeru, sering disebut dengan atap Jawa atau Puncaknya para dewa. Benar adanya ketika berada disini, seakan-akan kita bisa menyentuh langit dan berbincang dengan para dewa. Melihat matahari yang sejajar dengan kita, merasakan hembusan angin kencang  disertai pemandangan awan di bawah kita. Benar-benar seperti dewa yang sedang memandang bumi dibawah sana. Dengan kekuatan maksmal, kawah Semeru yang dikenal dengan mana Jonggring Seloka, juga turut bersuka ria menyambut kami para pendaki. Oh iya, ada informasi dan peraturan tidak tertulis, bahwa ketika kita berada di Mahameru, kita harus ingat waktu, dikarenakan para pendaki tidak boleh lagi berada di Mahameru setelah lewat pukul 10.00 WIB, hal ini dikarenakan adanya gas beracun yang dikeluarkan oleh kawah tersebut yang bisa membuat siapaun yang menghirupnya meninggal seketika. Konon katanya Soe Hok Gie meninggal di puncak semeru dikarenakan menghirup gas beracun ini.

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
#6Summit Done.. Mission Accomplish

Perjalanan kali ini dimaksudkan untuk menemukan sebuah tujuan di atap tertinggi jawa sekaligus menemukan surganya para pendaki. Hal pertama yang Mas Olo ingat ketika berada di Mahameru adalah rasa haru, haru karena kita sebagai manusia yang diciptakan kecil tak berdaya ini jika dibandingkan dengan Gunung, sangat dicinta Tuhan. Haru karena dengan segala upaya mampu mendaki ke Puncak tertinggi di pulau Jawa. Haru karena masih diberikan kesempatan untuk menikmati alam ciptaan Tuhan. Haru karena manusia gendut ini ternyata masih diberikan kekuatan dari TUhan untuk menggapai atap Jawa. Haru karena bisa melihat ke bawah, merasakan sejenak menjadi manusia tertinggi di Jawa tanpa rasa tinggi hati. Dan Haru karena boleh diberikan kesempatan untuk bercerita mengenai kisah surganya para pendaki dan perjuangan menggapai atap tertinggi di Jawa.

Hanya satu kalimat yang terucap di atas sana, di Mahameru, disaksikan letupan awan panas dan gas yang dikeluarkan oleh Jonggring Seloka:

“How Great Is Our God…. How Great I Our God…. How Great…How Great… Is Our God…”

#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki
Hanya Bisa Menatap Kagum dan Haru

 

Salam Inspirasi,

Sesuap Nasi

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

20 thoughts on “#6Summit Semeru, Puncak Tertinggi dan Surganya Para Pendaki

  • August 1, 2017 at 8:55 am
    Permalink

    adminnya keren nih, udah blogger jadi pendaki gunung pula 😀 lanjutkan min

    Reply
    • August 1, 2017 at 9:12 am
      Permalink

      hahahha bisa ajah mas brog.. Semua bisa menjadi pendaki, bisa bertanggung jawab sama diri sendir dan alam lestari…

      Reply
  • August 1, 2017 at 8:57 am
    Permalink

    Wih jadi kepenggen naik juga, saya baru ke puncak andong aja itupun gx sampai puncak

    Reply
    • August 1, 2017 at 9:12 am
      Permalink

      wahh saya malahan beloman pernah ke Andong, mungkin brader mau ngajakin ke Andong bareng..hehhe..

      Reply
    • August 1, 2017 at 9:11 am
      Permalink

      disegerakan lah mumpung belum tutup gunungnya 🙂

      Reply
  • August 1, 2017 at 9:43 am
    Permalink

    Wah sekarang ane jadi kepengen mendaki lagi nih gan gara gara artikel ente 😀

    Reply
  • August 1, 2017 at 9:46 am
    Permalink

    harus olahraga dulu untuk persiapan naik kesana ya…
    pengen ikutan…. >_<)

    Reply
    • August 1, 2017 at 9:56 am
      Permalink

      iyah kak betul sekali, harus dibiasain lari dulu, kalau tidak nanti kaget badannya…

      Reply
  • August 1, 2017 at 5:10 pm
    Permalink

    pertama ngeliat tulisannya sudah merinding, karena angan-angan saya masih belum tercapai untuk menjamah indahnya gunung semeru. kata kawan-kawan naik ke gunung semeru saat ini susah karena harus ngantri karena dibatasinya pengunjung, apa benar itu ?

    Reply
    • August 2, 2017 at 4:01 am
      Permalink

      iyah mas benar sekali, untuk membantu menjaga kelestarian alam semeru juga… untuk SIMAKSI harus diakses online terlebih dahulu… silahkan di coba, Semeru selalu menanti anda 🙂

      Reply
  • August 2, 2017 at 2:46 pm
    Permalink

    Wih seru nih kayak nya, ini merupakan salah satu hoby saya, cuman sayang nya saya tidak punya tim yang dekat jadi susah kalo mau bikin acara gini..

    Reply
  • September 3, 2017 at 1:08 pm
    Permalink

    Congrats gan berhasil summit ke semeru. Btw sayang banget bunga verbenanya lg kering 🙁
    *salam travel & mountain blogger 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *