#5Summit Ceremai: Menjadi Pendaki Sekaligus Teman Sejati

“Perjalanan paling dinanti adalah saat kita mendaki bersama teman-teman sejati”

Perjalanan paling seru adalah perjalanan yang kita lalui bersama teman-teman sejati. Benar adanya ketika kita mendaki, kita akan menemukan siapa diri kita, tetapi benar juga adanya saat kita mendaki kita akan menemukan siapa teman sejati kita.

#5Summit Ceremai
Penemuan Makna dan Teman Sejati

Pendakian kali ini bukan lagi ajang mencari diri ataupun penemuan makna diri. Pendakian kali ini adalah pembuktian bahwa benar adanya gunung itu menguji setiap pendaki untuk menemukan teman sejatinya. Dan disinilah Mas Olo menemukan arti teman sejati itu sesungguhnya.

Alkisah sebuah kisah nyata, dimana air dirasa begitu berharga dan bernilai, bahkan cenderung tak ternilai dengan uang sekalipun. Beberapa kilo jauhnya dari rumah, beberapa kilo jauhnya dari peradaban bahkan hanya beberapa meter jauhnya dari mata air, air seteguk saja luar biasa mahalnya. Pengalaman kehausan dan kelelahan di tengah jauhnya perjalanan yang menanti selalu menguji batin dan nyali. Bukan hanya sekedar persoalan penemuan jati diri, tapi bagaimana juga kita menjadi teman sejati dikala keletihan melanda. Pengalaman mendaki kali ini benar-benar membuat Mas Olo mengerti artinya menjadi teman sejati.

#5Summit Ceremai
Rute Pendakian Kali Ini

Gunung Ceremai, sebuah gunung maha indah yang terletak di daerah Kuningan Jawa Barat. Memiliki ketinggian 3078 mdpl, menyimpan banyak cerita, mampu membuat banyak pengalaman yang tak terlupakan, dan tentu saja merupakan sekolah alam yang mengajarkan arti menjadi sahabat sejati. Dengan berbagai macam keindahan dan pembelajaran yang tersimpan di dalamnya, agaknya Ceremai menyimpan sedikit mata air, dan begitu banyak tanjakan yang cukup menguras tenaga untuk dilalui. Disinilah pertemanan itu diuji, kesetiakawanan dinanti, persahabatan diperlajari.

Tanjakan Penuh kenangan...
Ada yang tau ini bapa nya sape? hehhehhe…

 

#5Summit Ceremai
Tanjakan Legendari yang Ada di Ceremai

Pelajaran Pertama: Informasi dan Persiapan para Pendaki

Pelajaran pertama yang diberikan oleh  Ceremai kepada kami adalah mengenai kesiapan mendaki. Dengan info yang cukup yang memberitahukan bahwa Ceremai adalah gunung yang minim sumber air, persiapan dalam hal logistik (terutama air) dan manajemen perbekalan haruslah kami pelajari terlebih dahulu sebelum melakukan penanjakan di gunung ini. Kebutuhan yang langka di Ceremai ini merupakan hal kedua yang paling berharga bagi hidup manusia, yaitu air. Terkenal dengan gunung yang sangat sedikit dan jauh sumber mata airnya, Ceremai mampu membuat frustasi para pendaki yang berusaha menapakinya sedikit demi sedikit. Jalur yang kami naikipun juga ternyata hanya menyimpan sebuah sumber mata air yang terletak masih jauh di awal mula pendakian. Dengan berbekal informasi tersebut, maka diputuskanlah bahwa kami yang ingin mendaki disana harus membawa dan menguasai manajemen persediaan air yang baik, minimal satu orang membawa 2 botol air ukuran 1,5 liter yang ditaruh di tasnya ditambah jirigen ukuran 5-10 liter untuk perbekalan tim. Dengan berbekal jirigen tersebutlah kami akan mendaki dan mencoba bertahan hidup di ganasnya alam Gunung Ceremai.

IMG_20140525_150706
Perjuangan membawa jirigen air… (In frame: Yuga, kawan Mas Olo)

Ternyata tidaklah mudah mendaki sebuah gunung yang cukup tinggi dan dengan medan yang menantang dengan membawa beban tambahan yang cukup beban berat.  Tas/keril yang wajib digendong oleh pendaki dirasa sudah sangat berat, karena ditambahkan 2 buah botol air 1,5 liter yang dimasukan ke dalamnya. Yang menambah beban dan lelah adalah jirigen yang ukuran 5 liter yang harus kami tenteng dengan menggunakan tangan. Rasa berat jirigen itu masih ditambah oleh jalur pendakian yang sedari awal sudah harus melewati tanjakan yang tanpa ampun. Ingin rasanya berteriak dan mengeluh, tapi malu dengan komitmen dan rasa kebersamaan teman-teman. Rasanya ingin buang aja itu jirigen yang penuh air karena berat dan lelahnya. Di setiap tanah kosong yang dirasa enak untuk selonjoran, jirigen itu selalu diletakan pertama dengan segera untuk membuat rilex tangan yang sedari tadi nyut-nyutan dibuatnya. Ingin rasanya meninggalkan beban berat itu disana, paling tidak mengurangi bebanya dengan meminum atau menumpahkan airnya sedikit. Tapi rasa itu diurungkan mengingat bahwa jirigen inilah yang akan membuat kami dapat bertahan dan hidup di Gunung ini. Membuang membuang jirigen itu sama rasanya membuang pengharapan dan komitmen yang sedari awal sudah kami bangun bersama-sama, yaitu untuk mendaki Gunung Ceremai tanpa rasa keluh dan menyerah. Ditambah lagi jirigen itu adalah bentuk komitmen kami bersama untuk bisa terlatih menjadi teman dan sahabat sejati. Pembelajaran yang luar biasa, dan paling nikmat itu adalah saat kita bisa belajar bersama.

Take a rest for a while...
Muka-Muka Kelelahan

Setelah melewati tanjakan yang cukup hebat dan luar biasa ditambah hari yang sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk mencari lapak agar tenda kami dapat berdiri. Tempat yang dirasa cocok bernama Pangalap. Ternyata pos Pangalap menjadi spot yang paling banyak dicari pendaki untuk mengistirahatkan kaki, sehingga pada saat kami sampai disana, lahan yang tadinya kosong dan cukup luas itu sudah menjadi seperti cluster rumah singgah sementara dengan hiasan warna-warni tenda yang saling berhimpitan dan berdesakan satu sama lain. Untungnya kami masih sempat mendapat lapak sedikit yang memungkinkan untuk membangun tenda 3 buah. Air yang kami bawa sedari tadi di jirigen langsung kami distribusikan dan oleh teman kami yang memang sudah berpengalaman ke sini dibagi-bagi dan dipisahkan sesuai dengan kebutuhan dan porsinya masing-masing. Kebutuhan untuk minum, masak, buang air (cebok), cuci muka seadanya, persediaan air untuk menuju puncak hingga untuk keperluan kami turun. Lengkap dan termanajemen dengan baik.

Menuju Puncak

Pagi menjelang, kami segera bersiap untuk menuju puncak. Persediaan air yang akan dibawa adalah sekitar 4 botol aqua ukuran 1,5 liter dan ditambah masing-masing orang bawa tempat minum kecil yang ditenteng oleh masing-masing. Persiapan untuk menuju puncak butuh lebih dari sekedar niat lho. Harus ada strategi dan manajemen logistik yang baik, bukan hanya strategi dan manajemen pribadi, melainkan juga kami sebagai team. Hal yang paling susah dilakukan disaat mendaki adalah mencoba peduli terhadap teman-teman yang mendaki bersama kita. Bukan karena mereka menyebalkan atau rese, tetapi lebih karena dorongan manusia untuk bersikap egois atau mementingkan diri sendiri disaat susah dan lelah dirasakannya. Ini termasuk ujian yang tidak tertulis yang harus kami lalui bukan hanya sebagai pendaki, tetapi juga sebagai teman sejati. Oleh karena itu dihimbau kepada para pendaki yang ingin menggapai puncak Ceremai, jangan hanya bermodal nekat dan niat saja tetapi butuh pertimbangan matang, pengetahuan yang cukup, perbekalan yang memadai, pengelolaan waktu dan logistik yang matang serta kemampuan untuk menahan ego pribadi. Jadi bagi yang bertujuan mendaki hanya untuk mendapatkan foto selfie semata, lebih baik memikirkan lagi deh niatnya dan mempersiapkan dir sebaik-baiknya, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.

Menuju Puncak...
Persiapan Menuju Puncak

Perjalanan ke puncak kurang lebih diprediksikan sekitar 3-4 jam, berangkat pukul 10.00 pagi diprediksi sampai puncak pukul 13.00 dan sampai ditempat kami singgah sejenak lagi tepat saat maghrib. Dengan perbekalan yang sudah diperkirakan cukup untuk sekitar 10 orang kami berangkat.

Segala Sesuatu Mungkin Terjadi di Atas Gunung

Sayangnya perkiraan kami meleset jauh, treknya yang cukup membuat kaki senat-senut, ditambah ada beberapa teman kami yang cidera kakinya, dan ada pendaki wanita diantara kami, alhasil membawa perjalanan kami molor jauh dari perkiraan waktu awal. Pukul 13.00 belom sampai puncak, bahkan pos terakhir sebelum puncak saja tidak keliatan. Yang parahnya, karena perjalanan yang cukup melelahkan, persediaan air bukan saja menipis, tapi habis. Bahkan sampai tidak ada setetes air lagi untuk perjalanan pulang. Yap persiapan yang dibuat sematang mungkin saja bisa gagal, apalagi yang datang tanpa persiapan sama sekali. Inilah kondisi sesungguhnya di gunung, bahwa segala sesuatu mungkin saja terjadi, tidak dapat diprediksi, dan seringnya membawa kejutan yang kerap kali mengagetkan kami.

Pos Terakhir, Ga sampe puncak karena Air Habis
Pos Terakhir, Ga sampe puncak karena Air Habis

Baru kali ini merasakan kehausan yang parah di gunung, ditempat yang mungkin terlihat segar dan asri karena daun-daun hijau dan pemandangan indah, tapi sejujurnya Gunung Ceremai ini berbeda, lebih menantang karena air sama sekali susah. Dan dalam keadaan yang haus inilah mental dan keteguhan hati seorang pendaki diuji, bukan hanya sebagai pribadi, namun juga sebagai teman sejati. Adegan selanjutnya adalah kami berjerih payah menampung air hujan untuk perbekalan turun dari puncak, epik banget kan, ditadahin pake flysheet trus dimasukin ke dalam botol-botol minum yang kami miliki. Thanks God banget, sudah memberikan solusi nyata kepada kami dengan hujan… surga…hahahha…

#5Summit Ceremai
Walau ga sampai puncak, tetep kudu foto dulu lah..hehhe..

Air warna kuning? apaan tuh?

Ada kisah nyata yang dialami oleh Mas Olo sendiri saat berada di Ceremai. Dengan tingkat kehausan yang berbanding terbalik dengan air yang dimiliki, saat Mas Olo melihat ada air di botol aqua yang berwarna kuning-kuning (you know what lah apa itu….) pingin diambil kemudian diteguk. Untung saja kawan mengingatkan bahwa itu air yang tak layak konsumsi. Yah walaupun ada yang mengatakan bahwa terapi urin itu bagus untuk kesehatan, tapi nggak urin orang juga kali kita seruput..hehehehhe… Sebagai alternatif rasa yang super mendesak itu, salah satu teman kami memberikan ide dan gagasan berdasarkan pengalamannya untuk meredakan rasa haus tersebut, yaitu dengan ngemuti dan menghisap daun jambu ditambah mengambil beberapa lumut yang menempel di pohon dan menyedotnya seperti mengisap sponge yang ada airnya, berharap ada kesegaran walau sedikit saja di situ.  Ternyata dengan ilmu dan pengalamannya, dia berhasil memberikan saran kepada teman-temannya. Tidak hanya sekedar saran saja, tetapi memberikan solusi yang menyegarkan bagi kami. Benar-benar jiwa seorang pendaki dan teman sejati.

#5Summit Ceremai
Terapi urinkah? hehehhe…

Belajar Menjadi Pendaki dan Teman Sejati

Baru kali ini merasakan pengalaman berpetualang yang seru dengan rasa haus yang teramat sangat. Bukan hanya rasa haus yang kami rasakan saja, tetapi juga kelelahan dan harapan yang punah sudah untuk menuju ke puncak Ceremai dikarenakan perbekalan dan air kami habis. Tetapi pembelajaran terbesar yang kami dapatkan disini adalah bahwa puncak itu adalah bonus, makna mendaki sesungguhnya adalah meruntuhkan ego pribadi dan belajar menjadi teman sejati, bahkan di saat terberat pun. Agaknya, kami berhasil melalui dan mendapatkan pembelajaran yang sangat berarti di sana, dengan rasa haus yang teramat sangat, rasa lelah yang menimbulkan peluh, semangat yang hampir menyerah di kala lelah, tetapi dengan semangat kebersamaan kami tetap bisa tersenyum, bercanda dan tertawa, menikmati keindahan alam, merebahkan diri di hamparan tanah, serta membuang jauh-jauh ego kami di dasar jurang. Kami berhasil menjadi teman sejati walaupun tidak sampai di Puncak Ceremai. Kami berhasil meruntuhkan dinasti ego pribadi saat kami merasa lelah, haus dan lapar. Kami berhasil tetap menjaga silaturahmi di saat gunung dengan gigihnya berusaha membuat kami bermusuhan dan mengeluh satu sama lain. Inilah makna mendaki sesungguhnya.

#5Summit Ceremai
Menjadi Teman Sejati

Alam adalah sekolah terbaik

Menjadi pendaki adalah pembelajaran terbaik

Menjadi teman sejati adalah pilihan terbaik

Dari Ceremai Mas Olo belajar bahwa menjadi seorang pendaki saja belumlah cukup, kita harus menjadi sosok teman sejati yang mampu diterapkan di dalam kondisi apapun. Pemaknaan menjadi teman sejati sebisa mungkin menjadi seperti air, yang sangat dibutuhkan dan menjadi solusi dikala kehausan melanda, saat dibutuhkan kita mampu hadir, saat tidak dibutuhkan kita tetap ada disana untuk tetap menyediakan kebutuhan bagi siapapun.

Bagaikan air mengalir, diharapkan kehidupan kita mampu membawa kesejukan dan penghilang dahaga dimanapun kita berada.

Salam Kawann....
Semangat selalu kawan

Sudahkah kita menjadi air bagi sekeliling kita?

 

 

Salam Inspirasi

Mas_Olo

 

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

12 thoughts on “#5Summit Ceremai: Menjadi Pendaki Sekaligus Teman Sejati

  • July 8, 2017 at 8:28 am
    Permalink

    Yg nama nya temen sejati emng bisa di ajak kemana” gan
    Beda dengan teman yg cuma ada di waktu kita senang aja gan

    Artikel yg bagus gan
    Ane tunggu artikel selanjut nya gan

    Reply
  • July 8, 2017 at 8:30 am
    Permalink

    Mantap gan inspirasinya saya seorang pendaki pemula soalnya hehehe

    Reply
    • July 12, 2017 at 7:33 am
      Permalink

      temen ketemu diatas nanti gan… yang penting ada niat dan kemauan untuk belajar gan..

      Salam Inspirasi

      Reply
  • July 8, 2017 at 11:43 am
    Permalink

    Kayanya seru tuh punya hobi mendaki, Saya masih agak ngeri aja gan kan suka ada tuh cerita horror, tersesat lah, apa lah hehehe 😀

    Reply
    • July 12, 2017 at 7:33 am
      Permalink

      awalnya juga saya ngerasa ngeri plus ga pede gan gegara badan saya yang cukup tambun… tapi setelah dijalani sih aman-aman saja, dan belum pernah merasakan kejadian horor atau tersesat… yang penting jangan ngelamun dan takabur gan 🙂

      Salam Inspirasi

      Reply
  • July 9, 2017 at 4:58 am
    Permalink

    Keren ceritanya, dari dulu saya pengen mendaki tapi sampai sekarang belum kesampaia karena beberapa hal, semoga di tahun 2018 saya bisa mendaki.

    Reply
    • July 12, 2017 at 7:31 am
      Permalink

      aminn… semoga keinginannya tercapai yah gan, n jangan lupa untuk belajar banyak dari pendakian…

      Salam Inspirasi

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *