#4Summit Gunung Gede: Jangan ada drama diantara Pendaki!

“Mendaki itu adalah upaya untuk mengkikis ego pribadi, bukannya untuk mementingkan diri sendiri…”

Baru saja melihat berita di sosial media tentang pendaki yang saling berkelahi dengan alasan entah apa di Gunung Prau, entah benar atau tidaknya, tapi kondisi di gunung seringkali membuat kita lupa diri. Dihantam dengan perjalanan yang cukup lama, medan yang cukup berat, barang bawaan yang cukup banyak dan berat, serta kelelahan fisik yang nyata membuat emosi seringkali tak terkendali, dan tak jarang juga rasa malas dan pegal membuat badan menjadi berulah ketika ada perkataan yang dirasa kurang berkenan di telinga. Pernah merasakannya? kondisi cape, eh ada yang sok-sok-an atau gegayaan menyombongkan diri sebagai seorang pendaki, atau ada yang menyuruh kita melakukan sesuatu dengan kata-kata yang tidak mengenakan? apalagi orang yang berbuat itu adalah orang baru atau orang yang tidak kita kenal sama sekali, pastinya kalau tidak benar-benar bisa menjaga hati, itu amarah sudah sampai diubun-ubun dan siap untuk diledakan dalam bentuk magma pijar ke orang tersebut yah..hehehhe…

#4Summit Gunung Gede, Jangan ada drama diantara Pendaki
Adu panco, adu jotos, adu kece, dasar…

Ga heran kan denger berita itu? heran sih, karena sejauh yang saya tau para pendaki itu ramah-ramah dan berjiwa sosial yang tinggi loh, rajin menyapa dan berbesar hati untuk memberikan bantuan atau sekedar salam lestari. Lantas kenapa berita itu bisa terjadi yah? wah Mas Olo jadi ingat kisah pendakian yang ke empat dalam blog series #4Summit, yaitu di Gunung Gede.

Yuk disimak….

Jadi ingat, tepatnya sekitar 3 tahun yang lalu, untuk menggenapi komitmen pribadi Mas Olo mengenai #7Summit, Mas Olo memiliki rencana untuk berangkat mendaki lagi. Tadinya Gunung yang dipilih adalah Prau di dataran tinggi Dieng. Sudah susun rencana, bahkan bayar sama teman yang memang kebetulan doyan mendaki juga untuk bersama teman-temannya berangkat ke prau dengan menggunakan sistem sharing cost. Akan tetapi, entah kenapa teman Mas Olo ini membatalkan secara sepihak proses pendakian ini, padahal Mas Olo sudah membayar sejumlah uang yang ditentukan lho, sudah gitu bahkan sampai sekarang itu orang menghilang tanpa jejak dengan membawa sejumlah duit yang cukup banyak dari sistem share cost itu. Duh dasar mahliang, yah semoga saja dia aman di alam kubur nanti yah. Nah alhasil putar haluanlah mencari trip yang terpercaya, langsung berangkat dengan destinasi gunung yang tidak terlalu jauh. Diputuskanlah untuk mengintp keindahan Gunung Panggrango dari Puncak Gede. Memang si kakak beradik ini termasuk gunung favorit yang dikunjungi oleh para pendaki.

#4Summit Gunung Gede, Jangan ada drama diantara Pendaki
Trip ke Gunung Gede

Nama tripnya adalah paradisea, kalau tidak salah membayar 350 ribu untuk naik ke Gede, dengan tronton yang memang telah disewa di terminal kampung rambutan. Untuk segala keperluannya pun sudah disiapkan oleh pihak paradisea, termasuk tenda, alat masak, makanan dan minuman, bahkan dapat kaos juga lho. Keren kan… Nah perjalanan ini bermula di Kampung Rambutan. Seperti biasa, Mas Olo dengan pedenya mencoba mencari teman baru di pendakian kali ini, karena memang sama sekali tidak ada yang Mas Olo kenal euy, si Mba-mba admin tripnya juga kan selama ini kontaknya via wa dan telpon, beluman pernah bertemu, tapi disinilah letak kenikmatannya, bisa melatih keberanian diri untuk mendapatkan teman baru, beradaptasi dengan cepat dengan lingkungan dan kawan baru, serta belajar untuk menjadi pendaki yang bijaksana.

#4Summit Gunung Gede, Jangan ada drama diantara Pendaki
Puncak Gunung Gede

Gunung Gede memang memiliki pesona yang luar biasa. Selain karena tempatnya dekat, gunung ini juga memiliki pesona yang cukup kece di puncaknya dan juga memiliki lembah yang terkenal dengan nama Surya Kencana yang disebut-sebut sebagai surganya para pendaki. Mas Olo sudah membayangkan bagaimana perjalanan akan dimulai, dinikmati, dipelajari hingga disyukuri. Prinsipnya sederhana, bahwa akan ada petualangan baru yang menanti di setiap pendakian. Petualangan itu bisa menjadi beban atau bisa menjadi rasa syukur; bisa menjadi penyesalan atau bisa menjadi pembelajaran. Nah tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Akhirnya setelah sksd, kenalah saya dengan kawan-kawan yang ternyata baru pertama kali juga mendaki di Gunung ini. Wah sama-sama newbi nih (pikir saya), jadi bisa lebih cepat akrab dan saling menolong. Saya lupa nama-nama mereka, yang jelas yang saya ingat ada satu orang yang bekerja di NET TV, saluran TV yang saya incar  dari dulu untuk kerja disana, yang sampai sekarang ga kesampaian (niatnya juga udah ilang..hahahha). Kami berlima berjalan perlahan namun pasti, menapaki setiap tanjakan dan trek yang lumayan berat yang menanti di depan kami. Oh iya, kami melalu jalur putri saat  mendaki.

10271490_10203723004574926_6299979659096620292_n
Temen-temen yang baru ketemu di Kp. Rambutan… Lupa euy nama-namanya..hahha

Naik Gunung gede dari via jalur putri, kontur jalan yang lumayan menajak sedari awal, dengan kiri kanan bergantian pemandangan antara sawah, ladang dan hutan yang mengiringi perjalanan. Kurang lebih menempuh 6-7 jam perjalanan untuk sampai ke Surya Kencana. Jalur ini cukup digemari pendaki juga karena jalurnya yang masih berupa tanah alam, berbeda dengan jalur Cibodas yang sedari awal sudah harus menaiki jalur tangga yang cukup melelahkan.

10155312_10203723009055038_2873036971899034181_n
Jalur Putri… Ajibe tenan

Entah menyadari atau tidak, tapi sepertinya rombongan kami tercerai berai, ada yang sudah naik duluan, ada yang masih tertinggal. Yang jelas, saya berada di barisan tengah dengan teman-teman yang saya temui tadi di Kampung Rambutan. Mungkin karena fokusnya hanya supaya segera sampai ke Surya Kencana, sehingga sama sekali tidak menyadari siapa-siapa saja yang menjadi rombongan kami. Tapi lain soal bagi Mba dan Mas yang membuat open trip atau mengadakan pendakian semacam ini, Mba dan Masnya harus tau betul siapa-siapa saja yang ada di dalam rombongannya, menemani mereka sepanjang perjalanan, dan memastikan kondisi para pesertanya dalam keadaan yang baik-baik saja. Karena kalau sudah berani membuka trip dan mengadakan pendakian massal, harus bersiap dengan tanggung jawab dan segala konsekuensinya, peserta trip pasti akan bergantung sepenuhnya ke yang menyelenggarakan trip (walaupun para peserta juga tetap harus membekali diri dengan ilmu dan kesiapan mendaki).

10154339_10203723024815432_4353204669730021940_n
Kang nasduk di gunung Gede

Akhirnya rombongan saya dan teman-teman yang baru dikenal di Kampung Rambutan tadi sampai ke Surya Kencana, sebuah lembah yang sangat luas, dengan hamparan tanaman eidelweis yang menghiasi di kiri dan kanannya. Benar adanya, Surya kencana memang surganya para pendaki, lembah ini sangat luas dengan pemandangan 360 derajat yang keren sekali. Memandang ke depan, kecee. Nengok kanan, lebih kece. Liat belakang makin kece, liat kiri juga super kece, liat atas sungguh amat kece, liat bawah eh kok kece juga yah. Pokoknya kece mode on banget deh Surya Kencana ini. Tapi perlu diwaspadai loh, karena letaknya adalah lembah angin disini bisa sewaktu-waktu berhembus kencang dan super dingin (bisa mencapai suhu 0 derajat), jadi dimohon dengan sangat jangan sok gagah-gagahan yah klo mau ngecamp disini, jangan sok buka-buka baju atau telanjang dada, jangan sok kuat, karena banyak pendaki yang kena hypothermia disini dan bahkan pernah ada yang meninggal disini. Serem kan, oleh karena itu perlu berhati-hati.

10310107_10203723023255393_737729863108961877_n
Santai sejenak setelah dihajar tanjakan yang super duper bikin engap
10298764_10203723007294994_7367065732781516173_n
Keindahan Surya Kencana
10275956_10203723031615602_3927278280964924502_n
Pria punya Selera

Oh iyah ada beberapa tips ngecamp di Surya Kencana antara lain adalah cari tempat yang dekat dengan sumber air, yang terlindung dari angin (biasanya pendaki cari tempat berteduh di dekat pohon, semak, atau tanaman), hindari nge-camp di daratan cekungan, karena berpotensi sebagai tempat angin yang bakalan ditampung di cekungan itu, selain itu kalau hujan bisa tergenang deh tenda kita. Dan jangan lupa buat jalur air disini.

10171648_10203723038895784_1581543106362557590_n
Tenda kami…
10247432_10203723040735830_7681003368225377657_n
Upacara Bendera di Gunung cuy, Kapan lagi…..

Awalnya tidak ada yang aneh dengan trip Mas Olo kali ini, selain menemukan teman baru dan mendaki gunung yang baru, Mas Olo juga mendapatkan pembelajaran lagi mengenai pendakian, ditambah dengan keindahan Surya Kencana. Tapi lambat laun, Mas Olo merasakan sesuatu yang ganjil nih, pertama rombongan kami terlihat tidak menyatu, walaupun sudah menemukan dan membuat tenda di tempat yang dipilih oleh rombongan yang kebetulan Mas Olo ada disitu. Tapi ternyata rombongan lain, yang lebih lambat jalannya dan lambat sampai di Surya Kencana, memilih ngecamp di lokasi lain yang dirasa cocok buat mereka. Walaupun tidak jauh dari tempat rombongan Mas Olo ngecamp, tapi tetap saja kami terpisahkan oleh sungai kecil. Lah kok jadi sendiri-sendiri begini yak, beda banget sama waktu Mas Olo mendaki ke Papandayan tempo hari. Keanehan lainnya terbukti saat ada pendaki senior (yang sepertinya ditunjuk menjadi guide kami) mengeluh mengenai trip ini.

#4Summit Gunung Gede, Jangan ada drama diantara Pendaki
Banyak yang mendaki hanya demi selfie

Setelah ngobrol sana sini dan mendengarkan keluh kesah hati mereka, Mas Olo jadi tau bahwa beberapa pendaki yang ada di rombongan Mas Olo ternyata adalah para pencinta alam yang diajak untuk ikut nanjak ke Gede oleh mba-mba founder dari Paradisea itu sendiri. Mereka disuruh ikut untuk menjaga kami para peserta, dengan diiming-imingi sejumlah uang sebagai tanda terima kasihnya. Namun ternyata di tengah jalan ada kesalahpahaman, bahwa yang dibawa oleh rombongan trip ini melebihi kesepakatan awal, ditambah juga ada beberapa hal yang tidak dikomunikasikan seperti logistik, jumlah tenda dan lainnya. Karena tidak ada informasi yang tepat dan akurat, jadilah si pendaki senior itu kebingungan dan merasa kurang maksimal. Klo dipikir-pikir bener juga sih yah, karena kan mereka yang harus bertanggung jawab atas trip ini, susah juga kalau informasi yang diberikan tidak akurat, kalau ada yang hilang atau terluka gimana tuh? kan jadi repot kan tuh. Melihat mereka berkeluh kesah, jadi prihatin juga sih yah, karena seperti dimanfaatkan demi kepentingan komersial semata dari travel-travel yang spontan membuka trip-trip pendakian karena banyaknya minat masyarakat yang mendaki. Sayangnya beberapa trip atau travel tersebut tidak membekali diri mereka dengan kesiapan mendaki dan edukasi, jadilah semua ditimpakan ke para guide yang “sengaja” diundang seakan-akan mereka yang menjadi pembimbing trip ini dengan iming-iming sejumlah uang. Sedih yah, tapi yah inilah kekuatan dari komersialisme. Yah mau gimana lagi, akhirnya keluh kesah dari si pendaki seniorlah yang kami terima. Walaupun tidak sampai terjadi perkelahian atau berantem mulut dengan rombongan kami yang lain, tapi tetap saja perjalanan ini menjadi kurang mengenakan. Nah untungnya mereka para pendaki senior adalah orang yang berjiwa besar, bahkan dalam kekesalan mereka, mereka tetap mau membantu kita untuk memasak dan merelakan tenda mereka untuk kita isi, sedangkan mereka tidur bersama diluar dengan bermodalkan sleeping bag saja. Salut buat kalian abang-abang.

10308589_10203723044135915_89465995294387510_n
Makan bersama pendaki… Jangan marah-marah lagi yah abang pendaki…ehehehe

Setelah perkelahian dan pertentangan mulut yang berhasil dihindarkan karena kebesaran hati para pendaki senior, jadilah kami menuju ke Puncak Gede. Dijadwalkan bahwa kami akan turun melalui Cibodas setelah melintas sejenak dari Puncak Gede. Jadi kami akan langsung pulang setelah dari puncak. Dengan membawa tas dan perlengkapan yang cukup berat, kami menaiki Puncak Gede, berharapnya dari Puncak Gede, kami akan menyapa kakaknya yaitu Panggrango yang berdiri gagah selalu mendampingin adiknya. Tapi apa daya, dikarenakan cuaca mendung dan kabut menutupi pandangan kami, pemandangan yang eksotis itu tidak dapat kami nikmati kali ini. Tapi sesungguhnya saya sangat bangga, karena bisa merayakan ulang tahun tepat di Puncak Gede, yap ulang tahun ke 26 Tahun di Puncak Gede. Kapan lagi kan bisa merayakan ulang tahun tepat di atas puncak gunung.

1549405_10203723049336045_4163756176632503200_n
Ultah Di Puncak gunung Gede 2958 MDPL

10291251_10203723052936135_1501246203057994340_n
Ciyeeh yang ultah ga ada yang kasih selamet banget ini… hahahha…

Setelah puas berfoto dan bercumbu dengan Puncak Gede, akhirnya saya turun melalui jalur cibodas, loncat-loncat di tangga batu, walau kaki pegel dan cenat cenut rasanya tapi harus tetap semangat, mungkin inilah yang namanya kekuatan tambahan dari rasa syukur, yang ternyata mampu membawa saya turun dari Puncak Gede menuju Cibodas dengan melalui perjalanan yang hanya 4 jam saja, bisa dibilang ngebut mode on deh. Nah disini rasa ego saya mulai datang kembali, karena dihajar oleh cuaca buruk yaitu hujan, ditambah dengan badan yang sudah agak lelah, sepertinya tanpa sadar saya turun tanpa disertai dengan rombongan saya naik tadi (yang barengan ketemu di Kampung Rambutan), saking terburu-burunya turun, saya sedikit berlari menuruni jalur Cibodas yang terkenal dengan tangga yang menyakitkan bagi kaki. Tanpa sadar begitu menengok ke belakang, lah kok ga ada sama sekali rombongan saya, wah kepisah jauh ini. Saya pikir saya yang tertinggal jauh sehingga justru bukannya menunggu di salah satu pos perberhentian, justr saya semakin melaju dengan kecepatan tinggi, bersegera menuju pos paling bawah. Nah ternyata setelah sampai dibawah, saya menjadi orang ketiga dari rombongan yang sampai duluan ke bawah, yang pertama adalah salah satu dari pendaki senior yang memang atlit lari, diving dan panjat tebing, sedangkan yang kedua adalah seorang wanita yang sudah pernah mendaki kerinci. Sedangkan yang lainnya masih jauh tertinggal di belakang, padahal waktu saya sampai di pos paling bawah (warung pingiran cibodas) waktu sudah menunjukan pukul 17.00 sore, sebentar lag maghrib. Dan benar adanya bahwa mereka masih tertinggal jauh dan baru sampai di tempat saya dan dua orang lagi istirahat pada pukul 22.00. Duh maap yah teman-teman.

10155423_10203723054896184_609495427394975230_n
#4Summit sudah terlaksana

Dari pendakian kali ini, Mas Olo sangat bersyukur bisa mempelajari banyak hal. Yang paling utama adalah mengenai kebesaran hati para pendaki senior yang ada di rombongan Mas Olo, dimana mereka tetap bertanggung jawab dan peduli dengan kami, walapun seakan-akan mereka dimanfaatkan oleh yang empunya trip sebagai “penjaga peserta”. Sisi lainnya adalah belajar jika nanti memang ingin membuka bisnis semacam ini, harus disertai dengan tanggung jawab, persiapan, ilmu pendakian serta tim yang solid juga. Bukan sekedar bagaimana cara mendapatkan untung dari sebuah perjalanan, bukan hanya mencoba untuk menyenangkan peserta trip dengan memberikan mereka baju bertuliskan perjalanan kali ini, tetapi dengan mencoba mengedukasi pentingnya keselamatan dalam pendakian disertai dengan kisah nyata pendaki, supaya kelak peserta yang ikut jadi teredukasi dan menjadi pendaki yang berbesar hati seperti pendaki senior diatas, bukan hanya menjadi penikmat wisata yang tak sadar akan lingkungan, tak sadar akan rombongannya, tak sadar untuk mengkekang ego dan amarah pribadinya.

Selain itu, pengalaman tak terlupakan lainnya adalah bisa menikmati perayaan sederhana dari diri sendiri untuk ulang tahun sendiri.

“Happy bday to me… happy b’day to me… Happy b’day…happy b’day… happy b’day to me…”

Jadi plis banget, jangan ada drama diantara pendaki yah, cukup drama kumbara dan di sinetron ajah. Klo udah diatas gunung kita semua adalah kawan, sesama pendaki yag ingin menikmati semesta, berbagi rasa, berbagi lelah, berbagi cerita dan berbagi inspirasi, jadi yah jangan cuma diem ajah atau bahkan berkelahi donk..hehhe..

#4Summit Gunung Gede, Jangan ada drama diantara Pendaki
Jangan cuma kek gini yah..hehehhe…

Salam Inspirasi,

Mas_Olo

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

7 thoughts on “#4Summit Gunung Gede: Jangan ada drama diantara Pendaki!

  • July 10, 2017 at 12:16 pm
    Permalink

    Wah mantap gan trek nya curam ga gan kalo gunung gede saya pengen kesana entar

    Reply
    • July 12, 2017 at 7:30 am
      Permalink

      iyah gan penuh perjuangan sangat.. tapi sebanding dengan pemandangan yang ada dihadapan kita nantinya setelah sampai ke sana..

      Salam Inspirasi

      Reply
    • July 12, 2017 at 7:29 am
      Permalink

      iyah gan.. keren bangett… kesanapun juga penuh perjuangan…

      Salam Inspirasi

      Reply
  • July 11, 2017 at 4:44 am
    Permalink

    jadipengen naik gungung ‘-‘

    Reply
  • August 19, 2017 at 4:56 am
    Permalink

    wow solidnya harus tinggi nih kalau mau mendaki gunung

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *