#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki

“Satu hal yang kupelajari dari para pendaki adalah kepeduliannya; kepada alam, kepada kawan, bahkan kepada orang yang tak dikenalnya…”

Setelah termotivasi dari gunung yang kerap kali disebut gunung wisata: Bromo dan Ijen, agaknya kali ini Mas Olo harus merasakan sensasi mendaki yang sesunguhnya. Benar-benar mendaki gunung, masak di sana, tidur di tenda, menikmati bintang yang bersinar di dalam kegelapan, sekaligus merasakan becek-becekan dan kotor-kotoran di alam. Nah sepertinya gayung bersambut, dua orang teman Mas Olo pada saat ngetrip ke Bromo dan Ijen mendadak mampir di WA dengan ajakan untuk mendaki, sebuah pengalaman baru yang dirasa layak untuk dicoba. Nah berhubung Mas Olo masih sangat pemula untuk dunia pendakian, maka pertanyaan pertama yang terlintas adalah “Aman ga nih?”

Ternyata, kedua orang teman Mas Olo yang memang masih minim juga pengalaman pendakiannya tidak serta merta mengajak berpetualang langsung ke gunung antah berantah. Melalui kenalannya di sebuah akun media sosial, ternyata ada semacam EO Trip yang sudah sering mengadakan open trip ke gunung yang dianggap gunung pemula oleh sebagian pendaki, namanya adalah Gunung Papandayan. Berhubung mereka sudah memiliki pengalaman dalam hal pendakian dan membawa pemula untuk mendaki, Mas Olo tidak terlalu worry lagi. Untuk perlengkapan tim seperti tenda, logistik, dll mereka sudah menyiapkannya, termasuk juga p3k yang harus selalu dibawa. Nah yang perlu disiapkan untuk para peserta open trip ini hanyalah uang yang sudah ditentukan besarannya, ditambah dengan perlengkapan pribadi seperti tas/keril, matras, headlamp, senter, sleeping bag,peralatan makan, obat-obatan pribadi, jaket, baju, termasuk sepatu gunung.

Dengan semangat yang membara, Mas Olo langsung segera pergi menuju toko peralatan gunung yang terletak di rawamangun. Hmmmm… ternyata peralatan pribadi diatas ngga murah euy, lumayan menguras kocek juga. Sebagai gambaran, tas gunung atau istilah kerennya keril saja untuk ukuraan 45 liter bisa dibandrol seharga 600 ribu sampai dengan 1 juta rupiah. Belum lagi untuk matras yang harganya sekitar 100 sampai 200 ribu rupiah, Sleeping bag seharga 150 ribu rupiah, headlamp seharga 100 ribu rupiah, jaket yang ternyata paling murahnya di harga 450 ribu rupiah, celana gunung seharga 200 ribu rupiah ditambah sepatu gunung yang lumayan menguras kocek juga, yaitu seharg 750 ribu rupiah. Nah coba ditotal sendiri, mahalan biaya untuk beli perlengkapan pribadinya daripada harga tripnya yang hanya seharga 350 ribu rupiah. Waduh, ternyata jadi pendaki mahal juga yah, demi keselamatan dan keamanan harus banget mengeluarkan duit sebegitu banyak.

#3Summit: Papandayan
Peralatan Mendaki

Sebenarnya harga yang kita keluarkan adalah bentuk investasi dan asuransi kita kepada keselamatan diri kita di gunung/alam terbuka. Semua peralatan yang terlihat mahal itu sebenarnya memiliki fungsi yang signifikan untuk menjada tubuh kita tetap fit di alam terbuka. Sebaga contoh nih yah, jaket seharga 450 ribu rupiah itu ternyata mampu menahan dinginnya udara di gunung yang kadang bisa mencapai titik terendah hingga 4 derajat celsius, matras yang berguna sebagai alas kita untuk duduk atau tidur memiliki fungsi sebagai pelindung agar tubuh kita tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang dingin, sleeping bag yang memiliki peran untuk menjaga agar suhu badan kita tetap hangat dan terjaga di tengah dinginnya malam, celana gunung yang memiliki fleksibilitas dan fungsi quick dry untuk memudahkan kita melangkahkan kaki sekaligus tidak membuat kita masuk angin dikarenakan basah terkena keringat sendiri atau hujan yang tiba-tiba datang. Nah sepatu yang harganya sudah hampir sama dengan sepatu fashion di mal itu ternyata juga memiliki fungsi yang tidak kalah penting dengan yang lainnya, yaitu untuk mempermudah kita melakukan perjalanan di tanah dan hutan dengan kontur dan kemiringan yang berubah-ubah. Ah kalau sepatu doank mah bisa kali pakai sepatu kets atau pakai sendal biasa ajah? hmmm… bagi yang pernah melakukan pendakian sih pasti akan geleng-geleng kepala untuk komen yang asal nyeplos saja itu. Nah bagi yang tetap ngeyel, yah monggo saja dipakai sepatu ketsnya atau sendal mainnya, tapi harus siap-siap pulang nyeker yah…hehehhehe…

Nah berbekal niat dan keinginan untuk bertanya sana dan sinilah kesiapan untuk mendaki itu perlahan dihadirkan. Ternyata untuk menjadi seorang pendaki sesungguhnya bukan hanya dibutuhkan niat dan sekedar keinginan yang menggebu-gebu saja. Mas Olo belajar untuk mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu, bertanya dengan para pendaki yang lebih senior mengenai kesiapan mendaki, mengenai cara bertahan hidup di alam terbuka, mengenai pertolongan pertama, mengenai berbagai macam jenis penyakit yang sering datang pada saat mendaki, sekaligus cara pengobatannya dan tak lupa juga melakukan kesiapan fisik seperti lari, jogging atau olahraga lainnya. Tujuannya hanya satu, agar kita siap dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi di atas gunung, karena kalau kata teman mas olo yang sudah sering mendaki, gunung itu bukan seperti tempat wisata yang membuat kita bisa berleha-leha dan bersenang-senang menikmati setiap wahananya. Tidak ada sarana kesehatan yang siap dikunjungi saat kita sakit, tidak ada mas atau mba penjaga yang bisa kita tanyai atau minta bantuan ketika kita adalm masalah, tidak ada sarana pijat atau tempat duduk yang bisa mijat pada saat kita kelelahan, tidak ada vending machine yang setiap saat bisa kita masukan uang lalu mengeluarkan minuman yang bisa menyegarkan dahaga kita, tidak ada tempat sampah atau petugas sampah yang berkenan membersihkan sampah yang kita buang sembarangan. Big No for That !!! Gunung bukanlah tempat wisata, gunung adalah alam semesta, dimana kita sedang bertamu kesana, mencoba berkenalan dengannya, mencoba untuk bersahabat dengannya, dan bersiap untuk kemungkinan terburuknya. Gunung bukanlah sarana yang Tuhan ciptakan untuk kita supaya kita bisa semena-mena mengunjunginya di waktu senggang kita, tanpa memperdulikan kebersihan dan keasriannya. Tuhan menciptakan gunung agar supaya manusia bisa ingat siapa Penciptanya, bersyukur kepadaNya, dan meluluhkan segala rasa kesombongannya. Dan ini yang terpenting, bukan gunung yang kita taklukan saat mendaki, tetapi diri dan ego sendiri.

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Gunung Bukan Tempat Sampah

Nah berbekal peralatan pribadi, niat dan komitmen pribadi, ditambah ilmu dari teman-teman pendaki, berangkatlah Mas Olo menuju medan tempur untuk belajar menjadi pendaki pemula. Pelajaran pertama yang Mas Olo pelajari adalah bagaimana cara untuk mendekatkan diri dengan orang-orang yang baru dikenal, yap, pendakian ini dimulai dari Terminal Kampung Rambutan untuk bertemu teman-teman baru, belajar untuk tidak canggung, belajar untuk berkomunikasi dan berkenalan, belajar untuk akrab, dan belajar untuk saling percaya dan membantu walaupun orang-orang baru.

Walaupun belum layak menyandang gelar pendaki apalagi pencinta alam, Mas Olo berupaya sekuat untuk mencoba belajar dari kawan-kawan yang memang sudah terlebih dahulu menggeluti dunia ini. Senang karena mendapat ilmu baru dan kawan baru, tapi yang terutama adalah dapat pengalaman baru tentang bagaimana kepedulian mereka terhadap kekayaan alam yang harus dijaga di setiap gunung yang kita daki. Para pendaki yang ada di group Mas Olo pun juga dengan senang hati memperkenalkan diri mereka, menceritakan berbagai pengalaman mereka, sekaligus ilmu, tips dan trik dalam melakukan pendakian. Dan yang membuat Mas Olo kagum adalah kerendahan hati mereka sebagai pendaki senior dengan tidak mau disebut dengan mas/abang/senior, cukup panggil “bro” ajah kata mereka, wuisshhhh…. angkat topi buat “bro-bro” semua.

Gunung ke-3, Tapi Pendakian “Beneran” Pertama

Papandayan menjadi destinasi ketiga dalam Resolusi #7Summit kali ini. Kenapa papandayan? Karena banyak yang bilang bahwa papandayan adalah gunung pemula, gunung yang bisa didaki bagi kita yang mau mencoba hobi baru mendaki, treknya-pun tidak terlalu panjang dan lama, dengan kontur yang cukup bersahabat. Selain itu pemandangannya pun juga tidak kalah menarik, mulai dari pemandangan ciamik asap belerang yang keluar dari perut bumi di sisi kiri pendakian, lalu memasuki hutan hujan yang bercirikan lumut hijau, lalu memasuki arena camping yang bernama pondok salada dengan hamparan eidelweis di kiri dan kanan area camping, lalu ada hutan mati yang eksotis dan sering dijadikan lokasi untuk foto prewed, hingga puncak yang memungkinkan kita melihat seluruh bagian dari papandayan. Papandayan sangat cocok bagi Mas Olo, yang memang baru merasakan pengalaman mendaki dengan semangat yang menggebu-gebu.

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Pesona Papandayan

Lapor di Camp David

Hal pertama yang wajib dilakukan setelah sampai pintu gerbang Gunung Papandayan adalah wajib lapor. Bukan hanya sekedar membeli tiket wahana di tempat wisata loh yah, tapi harus melakukan lapor diri dan team, serta penanggung jawab timnya. Untuk laporannya pun juga setiap orang diwajibkan melampirkan fotokopi KTP. Terdengar ribet yah, tapi keribetan ini memiliki tujuan, untuk memudahkan para penjaga/ranger di Papandayan untuk mendata para pendaki yang sedang mendaki di Gunung Papandaya, selain itu juga seandainya ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dengan para pendaki (bisa tersesat/hilang/keenakan mendaki/belum pulang) bisa terdeteksi dan segera dilakukan pencarian. Nah liat perbedaanya saat kita mengunjungi tempat wisata biasa, kan sudah Mas Olo bilang, kalau mendaki itu bukan hanya sekedar melakukan traveling semata, mendaki itu butuh persiapan yang matang, bisa berbahaya nantinya kalau persiapannya asal-asalan.

Begitu memasuki Camp David, Gunung Papandayan sudah terhampar nyata dihadapan kita, siap untuk dikunjungi, siap untuk didaki. Setelah dilakukan brifing tim dan doa bersama, mulailah Mas Olo bersama group menapakan langkah pertama untuk menjadi pendaki dan pencinta alam, sebuah langkah kecil untuk komitmen yang sudah Mas Olo buat.

Welcome to papandayan..Selalu awali setiap perjalanan dengan doa.. penting banget ini…

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Pendakian Sesungguhnya Pertama: Gunung Papandayan

Trek Bebatuan yang terlihat mudah namun membuat ngos-ngosan

Bagi sebagian rombongan, mendaki papandayan terlihat mudah, karena memang treknya cukup bersahabat, tapi tetap saja untuk ukuran pria yang dengan bobot sekitar 90-an kilo, yang memang belom pernah mendaki, jarang olahraga, dan doyan ngemil ini, lumayan bikin ngos-ngosan banget..hahhaa.. yah namanya juga pemula…hahha… baru juga beberapa langkah pertama saja, keringat deras bercucuran, kaki dirasa berat untuk melangkah, ditambah sedikit rasa pusing yang mampir di kepala Mas Olo. Ternyata ini yang seringkali jadi penyakit awal para pendaki pemula, karena terlalu bersemangat jadinya sering tidak menakar dan mengukur jarak dan kemampuan diri, serta stamina, sehingga begitu mulai sudah langsung lelah dan terlihat pucat (ini yang Mas Olo rasakan), sindrom “kaget” istilanya. Nah apalagi pas berhenti sejenak, langsung duduk, itu rasanya darah seperti mengalir deras ke kepala sehingga membuat kepala pusing ga karuan, pandangan menjadi gelap, jantung berdegup kencang, dan rasanya ingin rebah dan tidak sadarkan diri (mirip sindrom saat jatuh cinta kan yah..hehehhe). Tapi untungnya ada para bro-bro yang sigap dan mengerti dengan kondisi ini, sehingga Mas Olo terus dimotivasi dan diberikan sedikit air untuk kembali menyadarkan diri dan semangat Mas Olo untuk tetap mendaki. Ini ilmu penting selanjutnya nih, bahwa motivasi dari sesama mendaki itu ternyata sanggup memberikan kekuatan baru untuk pendaki pemula macam Mas Olo ini.

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Semangattt…

Dengan bantuan semangat para bro-bro, jadilah Mas Olo tetap melaju, walaupun tertinggal paling belakang (duh maap yak jadi merepotkan…). Sedikit demi sedikit kaki ini terbiasa juga, napas menyesuaikan meskipun masih tersengal-sengal. Langkah mulai tegap, keringat semakin bercucuran deras, badan yang sudah menyesuaikan kondisi. Dengan diiringi bau belerang yang menusuk hidung, sinar matahari yang menyengat, jalur yang semakin menanjak, batuan yang menusuk telapak kaki, membuat semangat Mas Olo semakin membara. Ternyata ini toh yang namanya mendaki, enak-enak pegel gimana gituh..hahhahhaha… Semangat datang pada saat kita memotivasi diri sendiri.

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Monggo….
#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Perut memang ndak bisa bohong..hahahha…
#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Bertemu teman baru: Pendaki Hijabers yang sekarang malah udah pada merried duluan…hahahhaha
#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Ini yang ngajakin Mas Olo Ke Papandayan nih… Makasih yang kawan

Sampai juga di Pondok Salada

Akhirnya sampai juga di camp ground Pondok salada, cukup penuh dengan tenda para pendaki yang sudah sampai duluan, tapi tenang saja Pondok Salada itu sangat luas kok, mampu menampung para pendaki yang ingin singgah sekejap untuk sekedar bermalam dan menikmati semesta. Setelah para bro-bro berkeliling untuk mencari “lapak”, dapatlah kita suatu lahan di bawah pepohonan yang dirasa cukup luas untuk mendirikan 4-5 tenda. Nah ini pembelajaran lanjutannya, kenapa harus memilik lokasi di bawah pohon, padahal enakan itu di sisi atau tepi pohon eidelweis yang berada di tanah terbuka lho. Ternyata ini yang menjadi bahan pertimbangan, yaitu saat malam datang, kerap kali angin kencang disertai hawa dingin mendadak berhembus dan bertiup kencang, bahkan bisa terjadi badai angin yang mampu menerbangkan tenda para pendaki, nah fungsi dari pohon ini adalah untuk menahan angin tersebut, agar angin kencang yang masuk, tidak lantas menabrak tenda yang tidak memiliki perlindungan atau penahan angin tersebut. Kala tendanya terbang kan sulit banget tuh, yang ada kita tidak bisa istirahat dengan nyenyak dan hangat di malam dingin kan. Ilmu banget loh ini…

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Istirahat sejenak… abis itu pasang tenda…

Pengalaman pertama pasang tenda langsung diguyung dengan hujan deras…Byurrr… Ujan langsung Turun… Salah satu hal yang suka mendadak terjadi di Papandayan adalah hujan yang sering datang tiba-tiba, dan kalau sudah hujan turun bisa dipastikan bahwa Pondok Salada bakalan becek sebecek-beceknya.. Pengalaman pertama nanjak gunung beneran begini amat yah.. Seru-seru basah gimana gitu..becek-becek melecek gimana gitu, tapi seru… hehehhe…

Setelah tenda jadi, masak-masak, lantas bersiap untuk foto-foto, sebagai bukti otentik bahwa Mas Olo sudah berhasil belajar menjadi pendaki pemula..hehehhehe…

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Sah… Mas Olo Nanjak ke Papandayan

Malemnya kita berapi unggun ria (rencananya), tapi karena kayu pada basah terkena hujan tadi siang, apa daya api unggun kita gantikan dengan sinar senter/headlamp. sharing session, belajar mendengar dari para suhu-suhu pendaki, dengar cerita kehidupan, banyak berbagi, seru deh pokoknya. Ada saat untuk ketawa ketiwi, ada juga saat untuk terharu, ada saat untuk merasa tersentuh dengan cerita-cerita inspirasi, dan ada juga saat untuk menikmati pengalaman teman-teman baru. Intinya adalah malam itu adalah momen bagi kami untuk saling mengenal dan memberanikan diri untuk berbagi banyak hal untuk bekal masa depan.

Paginya, kami tidak menantikan matahari terbit, karena memang cuaca sedang mendung, kabut cukup tebal dan tenda kami nampak berembun. Segera kami bersiap memberekan diri kami dan tenda kami untuk pulang menuju terminal guntur, garut, supaya tidak terlalu malam sampai di Jakarta.

Jalur pulang kami adalah melewati Tegal Alun, yang lebih dikenal sebagai padang Eidelweis di Papandayan. Saking cantiknya Eidelweis, banyak pendaki yang coba untuk memetiknya dan menjadikannya kenang-kenangan atau perlambang keabadian bagi cintanya. Bagi yang belum tau apa itu eidelweis, itu adalah bunga abadi yang sering tumbuh di daerah yag cukup dingin seperti di gunung. Abadi? iyah benar, sekali tumbuh mereka akan terus abadi sepanjang masa, kecuali ada pendaki usil yang memetik dan mencabut bunga itu untuk dibawa pulang. Bahkan setelah dipetikpun, bunga tersebut tidak menampakan tanda-tanda mati atau layu seperti pada bunga kebanyakan. Nah bagi kalian yang berniat untuk mendaki, ada peraturan yang melarang kita untuk memetik bunga ini lho, alasannya? yah tidak lain tidak bukan adalah supaya kita turut melestarikan alam dengan menjaganya. Biarlah bunga tersebut indah adanya di tempat dimana dia tumbuh, jangan menjadi pendaki yang bandel dengan melanggar larangan ini, repot euy klo aja ada sejuta pendaki bandel yang nekat memetik bunga ini, bisa hilang semua nanti bunga ini, kasian kan, makanya ada peraturan itu diturutin, jangan dilanggar dan sok-sok-an berdebat dengan alasan apapun untuk mencabut bunga ini.

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Tegal Alun cakepp yah…

Setelah melewati Tegal Alun, kami dihantarkan menuju jalur pulang melewati jalur hutan mati dan langsung menuju ke bawah. Hutan mati itu tempat favorit para pendaki karena seperti berada di negeri dongend dengan pohon-pohon yang mati dan botak terkena asap belerang. Indah dan unik, plus ada sedikit rasa mistis juga… Eh Delalah rombongan kita ketemu pasangan yang lagi prewed disitu.. wew mantab yah… langsung kepikiran waktu itu juga pingin prewed ala-ala gunung juga (walaupun tempo hari beloman punya pacar alias jomblo..hahahhaha).

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Hutan Mati penuh Pesona
#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Salah satu pendaki senior yang Mas Olo kagumi, namanya Kang Robert

Belajar dari Papandayan

Intinya mendaki itu enak banget dan bikin nagih ternyata, dari papandayan belajar banyak lhoo Mas Olo. Belajar untuk tidak menyerah di langkah pertama, belajar untuk tetap berjuang sampai tempat tujuan, belajar untuk tidak egois terhadap teman-teman serombongan maupun pendaki lain, belajar untuk menghargai alam dengan tidak buang sampah sembarangan, belajar untuk mencintai alam dan bumi dengan menjaganya selalu, dan yang terpenting adalah belajar untuk mensyukuri setiap anugrah hidup baik susah maupun senang.

Mas Olo Ketagihan banget sama papandayan dan berjanji suatu saat nant akan kembali menengok Papandayan yang telah memberikan banyak pelajaran terhadap Mas Olo.

Pelajaran penting terkait menjadi pendaki pemula dengan semangat pencinta adalah adalah upaya untuk menjaga dan  lestarikan alam kita, baik itu di lingkungan rumah kita, di lingkungan kantor/sekolah/kampus kita, maupun di lingkungan gunung tempat kita mendaki. Jadilah pendaki yang bijaksana, dengan tidak melakukan hal-hal yang merusak alam seperti vandalism (corat coret batu dll), tidak buang sampah sembarangan, tidak memetik bunga eidelweis, memperhatikan tanaman/bunga-bunga yang ada disekeliling kita pada saat kita akan selfie supaya tidak terinjak dan mati dan yang terpenting itu adalah kalau meninggalkan jejak berupa emas tembaga dikubur yah (tau lah apa itu..hehhehe..).

Sedikit filosofi yang Mas Olo dapatkan mengenai pendakian yaitu:

Jangan ambil apapun selain Foto

Jangan tinggalkan apapun selain jejak

Jangan buang apapun selain kenangan mantan #Eaaaaaaa

#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki
Salam Lestari dari Pendaki Pemula

Salam Inspirasi,

Mas Olo

 

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

15 thoughts on “#3Summit: Papandayan, Pelajaran Menjadi Pendaki

  • June 30, 2017 at 2:33 pm
    Permalink

    Ceritanya seru banget bro, gua juga pernah sekali mendaki gunung, saat malem2 dan serem gitu sampe2 gua hmpir sesat hehe, untung temen2 gua udh pada mahir, wkwk nice story lu bro

    Reply
  • June 30, 2017 at 3:18 pm
    Permalink

    Seru sekali mendaki di papandayan, nanti maen2 ke kalimantan yah, kita ada pegunungan meratus, yang sangat seru juga untuk di jelajahi

    Salam lestari…

    Reply
  • June 30, 2017 at 7:07 pm
    Permalink

    keren banget sumpah om,,, jadi pengen buat blog template kayak gini buat travelling.. insprirasi nie.. salam “depreso blogspot”

    Reply
  • June 30, 2017 at 9:37 pm
    Permalink

    Cerita yang panjang ya Gan 🙂 , keren lah… Hmmm belum pernah mendaki sih, tapi dengan adannya tulisan ini kita bisa tau keseruan mendaki 🙂

    Reply
  • July 1, 2017 at 6:13 am
    Permalink

    jadi inget naik tahun lalu ke papandayan, modalnya minim tapi bisa nyampe puncak nya heheh lanjut kan gan saya suka 😀

    Reply
  • July 14, 2017 at 4:03 pm
    Permalink

    Saya malah belum pernah ke Papandayan. Padahal penasaran juga pengen merasakan alam di sana 🙂

    Reply
    • July 19, 2017 at 9:36 am
      Permalink

      Wah beloman pernah ke Papandayan? dicoba atuh, enak kok.. tapi sekarang sudah agak mahal karena sudah komersil dan dikelola swasta..

      Salam inspirasi

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *