#2Summit: Ijen, Blue Fire dan Para Penambang

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” – Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Pernahkah kalian merasa jenuh dengan kondisi dan rutinitas setiap harinya di kantor, dihadapkan terhadap tumpukan tuntutan dan tanggung jawab, yang menyeret jiwa raga untuk menyerahkan seluruh waktu bagi hal-hal yang seringnya tidak kita senangi. Menyalahkan keadaan yang berakhir kepada rasa keluh teramat sangat yang berujung surat ‘Resign’ penuh amarah. Hmmm… Mungkin sesekali kita perlu menengok “pekerjaan” lain yang dilakukan oleh orang-orang  luar biasa di belahan bumi lain, sebut saja di Ijen.

Banyak cerita dari para sahabat sepulang mereka dari Ijen, mereka mendapatkan pencerahan dan semangat baru untuk menata lembaran-lembaran tanggung jawab yang mereka sebut “kerja” di kantor. Ada yang berkata bahwa traveling ke Ijen sungguh membuka mata, bukan hanya keindahan semata, tetapi juga pada kerja nyata yang dicontohkan oleh penduduk di sana. Kok Bisa? Kerja nyata seperti apa? pemandangan seperti apa? keteladanan seperti apa? motivasi seperti apa yang bisa didapatkan disana?

Ini dia tema pendakian kali ini, gunung wisata yang terkenal dengan kawahnya yang mempesona, pemandangan di kala subuh, sekaligus teladan sejati dari para pekerja. Pendakian kedua, gunung dan kawah Ijen, fenomena keren blue fire  dan keteladanan dari seorang penambang belerang, seru kan? yuk disimak…

Gunung Ijen? Bukannya Kawah yah?

Hahahahahha.. mungkin kalian akan menatap mas olo dan berkata: “Helloooo… Itu kawah keles, bukan gunung…”, eits tapi jangan salah, ini informasi yang valid kok, bahwa gunung itu bernama Ijen. Benar yang terkenal adalah kawahnya, tapi kan untuk menuju kawah itu harus mendaki jalanan yang cukup menanjak baru nanti kita bisa sampai ke bibir kawah dan turun ke bawah. Nah pas kebetulan ada warga sekitar, langsung saja Mas Olo sigap tanya-tanya orang di situ mengenai informasi kawah ijen, dan ternyata jalanan menanjak yang Mas Olo naiki sembari ngantuk-ngantuk dan ngos-ngosan adalah jalur menuju gunung yang juga bernama gunung Ijen, Nah tuh bener berarti Ijen ada gunungnya, dengan ketinggian 2.386 meter diatas permukaan laut, lumayan bikin ngap juga sih.

Jadi begini ceritanya :

Ini merupakan rangkaian dari Bromo Trip Caravan di kisah  #1Summit: Gunung Bromo . Setelah melihat sunrise di bukit penanjakan, menjajakan kaki dan melingkari kawah Bromo nan epic, lelumpatan foto di bukit teletabies, berhening sejenak bersama pasir berbisik, lanjutlah perjalanannya menuju kawah yang terkenal fenomenalnya dengan Blue Fire, yaitu kawah Ijen… sssttt… katanya Fenomena Blue Fire cuma ada 2 di dunia, satu di Islandia dan satu lagi ada di ….  INDONESIA…..wuishh bangga kan kita.

Hanya saja perjalanan epic melihat fenomena ini harus ada yang dikorbankan, yaitu jam tidur kita.. Gimana engga, perjalanan harus dimulai dari pukul 01.00 dini hari supaya bisa melihat fenomena itu. Hal ini dikarenakan Blue Fire baru bisa akan terlihat sekitar pukul 3 – 4 pagi, paling lama itu jam 4.30, setelah itu samar-samar warna biru berganti menjadi asap hitam kekuningan akibat sinar matahari. So kalau mau menikmati indahnya Blue Fire Ijen harus mau bangun pagi, eh maksudnya bangun tengah malem.

Perjalanan dari basecamp dimana tempat mobil dan jeep pada parkir menuju ke kawah kurang lebih memakan waktu 2-3 jam, bergantung kesiapan fisik kita dan semangat kita menuju kawah. Harus semangat karena jalan akan terus menanjak dengan sudut sekitar 20 -30 derajat. Karakter jalannya sih enak sudah halus dan berbentuk jalan, bukan tanah, dan ga harus membabat hutan kiri kanan. Dan selama perjalanan kita kudu wajib punya senter, karena kondisi akan gelap total, hanya disinari dengan cahaya rembulan, bintang dan cahaya cinta (Eeeeaaaa…).

Setelah sampai di Puncak Ijen, next step-nya adalah harus turun ke kawahnya. Walaupun dari kejauhan warna biru api sudah menari-nari dengan indahnya, tetep saja penasaran untuk turun ke kawahnya. Tapi rasa penasaran harus dibarengi dengan kewaspadaan lho yah, turun ke kawah tidak semudah kita naik ke puncaknya, karena jalur cenderung didominasi oleh batuan-batuan yang ngaco banget letaknya, besar kecilnya juga random banget, ditambah dengan kondisi gelap gulita (mengingat masih sekitar jam 3-an pagi gitu..).

Dan ternyata…

Di dasar kawah Ijen, ternyata ada danaunya juga lhoo… kereenn… Si api Biru-pun juga ga mau kalah keren memamerkan keindahan pesonanya kepada Mas Olo. Perpaduan antara birunya langit dan birunya danau turut mempercantik aksen warna biru si api yang ternyata berasal dari belerang-belerang yang ada di sisi kanan dan kirinya. Rasa ngantug Mas Olo hilang seketika.

Perpaduan Sempurna Warna Biru Langit, Danau dan Sang Api

Matahari sudah agak meninggi, danau di kawah semakin terlihat mempesona, dengan asap-asap tipis perpaduan antara kabut dan asap belerang, plus ditambah aroma belerang yang sesekali menyesakan dada. Oh iya kalau kesini harus banget mewaspadai yang namanya bau dan asap belerang, karena kalau fisik kita tidak kuat, menghirup bau belerang terlalu lama bisa mengakibatkan pingsan atau bahkan kematian.

Nah ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk menghindari asap belerang, yaitu kita melihat arah angin, kemana asap akan berhembus, sebisa mungkin kita tidak searah dengan arah angin. Cara kedua yang cukup ampuh juga adalah menutup hidung dengan menggunakan saputangan, handuk, atau menggunakan masker yang sudah dibasahi air. Cara ketiga ini Mas Olo praktekan dan cukup ampuh untuk menangkal sesak napas akibat bau belerang.

10154493_10203551363684011_46548408_n
Nih Danau di kawahnya… Ajibee kan…

Puas menjelajah kawah, akhirnya Mas Olo naik ke puncaknya lagi, untuk segera pulang. Karena ternyata tidak semua rombongan boleh turun ke kawah. Saat ditanya apa alasannya, ternyata dibatasi oleh waktu. Kalau datang diatas jam 4 pagi masih diperbolehkan turun, tapi diatas itu hanya bisa menikmati melalu puncak ijen. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor kewaspadaan juga terhadap bau belerang, karena denger cerita orang-orang disana, sering juga ada wisatawan yang pingsan di bawah kawah. Susah juga evakuasinya kan yah.

#2Summit: Ijen, Blue Fire dan Para Penambang
Sudah Pagi, Segera Naik Lagi

Akhirnya kita pulang dengan perasaan bangga bercampur bahagia karena ternyata di Indonesia ada pertunjukan alam yang seindah ini. Dashyat men, hanya dua lagi di dunia, dan Indonesia sebagai salah satunya. Pantesan aja  ada juga beberapa wisatawan Bule yang datang, melihat, foto-foto bahkan sampai bengong melihat keindahan Blue Fire kawah ijen.

10154956_10203551361163948_530629811_n
Ini Puncaknya Ijen… Ada kabut tipiss.. makin ciamikk…

Keteladanan dari Para Penambang

Indahnya Ijen itu, selain kita bisa menikmati pemandangan Blue Fire yang melegenda, kita juga bisa mempelajari keteladanan yang diberikan oleh para penambang yang ada disana. Hah? Penambang apah? Memangnya ada?

Ada donk, kalau kalian memang ingin mencari inspirasi melalui setiap perjalanan kalian, pasti hal-hal kecil nan sederhana tidak akan luput dari perhatian kalian, termasuk pemandangan orang/warga lokal yang lalu lalang melewati kita naik dan turun saat kita mendaki gunung dan menuruni kawah ijen. Awalnya juga Mas Olo terperangkap kepada zona ketidakpedulian kepada mereka karena rasa lelah dan letih yang sangat saat mendaki, tapi nyatanya sejutek dan secuek apapun kita, mereka, para penambang akan dengan senang hati memberikan senyum terbaik mereka dan mengucapkan salam kepada kita. Duh jadi malu euy, mereka loh yang memulai lebih dahulu, padahal kita yang pendatang, harusnya menghormati warga sekitar yang ada di sana (menurut tata krama pendakian yang diberitahukan teman Mas Olo).

#2Summit: Ijen, Blue Fire dan Para Penambang
Para Penambang Belerang

Nah jika kalian peka terhadap mereka, ini merupakan pemandangan menarik yang bisa dijadikan pembelajaran dan sumber inspirasi perjalanan. Hampir semua lelaki di desa yang berada tepat di bawah kaki gunung ijen ini menjadikan tambang belerang sebagai tempat mereka mencari sesuap nasi. Alam nampaknya berbaik hati kepada warga sekitar, karena biasanya belerang membuat mati hampir seluruh tanaman yang dilalui oleh asap dan baunya, sehingga sangat mustahil bagi warga sekitar untuk bercocok tanam. Tetapi sebagai gantinya, belerang memberikan sumber mata pencaharian baru bagi mereka yang memiliki semangat untuk bekerja pagi buta menaiki punggung dan menuruni kawah dengan resiko yang cukup berat untuk mengais belerang-belerang yang tersedia untuk mereka.

penambangan-belerang-di-kawah-ijen
Senyum khas para penambang belerang di Kawah Ijen

Kebetulan saat Mas Olo menuruni kawah tersebut, ternyata ada para penambang yang sedang bekerja. Diawali dengan memecahkan belerang menjadi keping-keping sehingga bisa diangkut dengan menggunakan tempat yang terbuat dari rotan, lalu mendinginkannya, memasukan pecahan-pecahan belerang itu, hingga membawanya naik ke puncak dan membawanya kembali ke desa. Ini pekerjaan yang tidak mudah, karena selain butuh kekuatan dan stamina yang mumpuni, pekerjaan ini juga membutuhkan kecerdasan dan kewaspadaan selalu, karena kapanpun kematian dapat mengintai mereka dengan sebuah asap belerang yang mungkin terlihat sepele namun berbahaya.

#2Summit: Ijen, Blue Fire dan Para Penambang
Penuh Resiko

Ada hal unik lainnya dari para penambang ini, mereka sering terlihat meninggalkan panggulan mereka di titik-titik tertentu, mungkin bagi mereka ini semacam check point untuk mereka beristirahat. Tapi ternyata, si penambang tidak lantas beristirahat sembari menjaga panggulan mereka. Panggulan itu sering terlihat tanpa pemilik teronggok di pinggiran jalan menuju puncak Ijen. Nyatanya tidak ada para penambang yang salah mengambil atau sengaja mencuri panggulan milik orang lain. Nampaknya mereka begitu teroganisir meletakan panggulan satu demi satu, dengan jarak yang rapi dan dengan maksud tertentu. Nah setelah Mas Olo bertanya sana sini, ternyata ada sebuah teknik yang lazim digunakan oleh penambang untuk membawa belerang menuju pos penimbangan, yaitu dengan meletakan panggulan dengan jarak tertentu, sehingga mereka bisa menghemat tenaga sekaligus membawa hasil yang lebih banyak daripada memanggul belerang yang sekali ambil langsung dari bawah menuju ke pos penimbangan. Mungkin semacam teknik estafet belerang gitu yah, keren. Nah keliatan kan bahwa kerja itu bukan hanya keras, tapi juga kerja cerdas. hmmm….keren….

#2Summit: Ijen, Blue Fire dan Para Penambang
Kerja Itu Harus Cerdas

Wah, ternyata perjalanan mendaki kali ini bukan hanya sekedar mencapai ambisi pribadi yah, tapi juga mencari sumber inspirasi yang seringkali luput kita perhatikan pada saat kita traveling. Padahal jikalau kita mau, kita bisa kok untuk bertindak peduli pada hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita, bahkan pada saat kita sedang traveling, asalkan kita tidak terlalu angkuh dengan egoisme kita, tidak terlalu sombong dengan kemampuan kita untuk ngetrip dan tidak terlalu fokus hanya menatap layar kamera dan layar hp untuk update status dan foto terbaru.

Karena pada dasarnya perjalanan itu adalah sebuah pembelajaran, bukan hanya mengenai destinasi tapi juga mengenai inspirasi.

#2Summit: Ijen, Blue Fire dan Para Penambang
Petualangan Penuh Inspirasi

 

Salam Inspirasi,

Mas_Olo

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

14 thoughts on “#2Summit: Ijen, Blue Fire dan Para Penambang

  • June 28, 2017 at 2:41 am
    Permalink

    Keren ya, pemandangannya, dan semoga saya bisa ke sana juga bersama keluarga. dan kelihatannya seperti di luar negeri aja heheh. mantap

    Reply
  • June 28, 2017 at 6:38 am
    Permalink

    Wah, setelah sekitar 30 menit membaca entah mengapa hati ku terketuk untuk menjadi seorang penambang pula. Kira-kira apa saja ya yang harus dipersiapkan untuk menjadi seorang penambang?

    Reply
    • June 29, 2017 at 1:45 pm
      Permalink

      kegigihan hati, kekuatan fisik dan semangat yang tak pernah padam mas, ditambah sepertinya harus banyak bertanya dan belajar kepada si inspirasi itu sendiri deh…

      salam inspirasi

      Reply
  • June 28, 2017 at 8:14 am
    Permalink

    Wuih mantap jadi pengen kesana…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *