Pejuang Usia Senja: Si Nenek dan Kisahnya

“Saya selalu diajarkan bahwa orang tua adalah anugrah dan berkah, bukan beban atau cobaan”

 

Budaya barat mengajarkan jika kita sudah cukup umur, kita punya hak untuk meninggalkan rumah, meninggalkan orang tua, hidup mandiri. Di dalam budaya timur, mas olo diajarkan jika kita sudah cukup umur, kita punya kewajiban untuk berpulang ke rumah, melepaskan rasa rindu kepada orag tua, mengurus kehidupan mereka di usia senja.

Sangat kontras memang, tapi itulah kehebatan dari sebuah petuah yang diturunkan sejak semasa embah-embah. Jikalau dulu kehidupan kita disokong oleh orang tua, di masa senja mereka kita wajib menyokong kehidupan mereka di dalam bahagia. Semacam timbal balik yang dirasa cukup adil, dan lebih dari itu yaitu sebagai bentuk ucapan terima kasih dan pengabdian kita sebagai seorang anak.

Pejuang usia Senja: Si Nenek dan Kisahnya
Circle of Life

Beberapa hari ini mas olo selalu diingatkan mengenai keluarga, sama seperti lirik pada “keluarga cemara” yang berkata bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Mulai terpikirkan saja bagaimana nantinya kehidupan orang tua setelah mereka pensiun dengan dana pensiun yang tidak seberapa, menikmati hari senja dengan duduk di kursi malas, berusaha untuk tetap sehat dan enerjik dikala waktu memakan habis umur mereka, dan berusaha selalu bahagia menikmati kehidupan yang semakin cepat berlalu. Pikiran itu mulai muncul saat kata pernikahan sudah ada di depan mata, sebuah komitmen yang harus diambil saat seorang pria sudah dikategorikan memasuki umur dewasa, kematangan paruh baya, tanggung jawab untuk membentuk keluarga baru dengan pilihan yang telah didoakannya. Inginnya tidak ada pilihan antara keluarga sekarang atau keluarga masa depan, inginnya tidak ada pilihan antara membagi keuangan untuk keluarga sendiri atau kepada papa mama, inginnya selalu bersama dengan mereka menikmati masa tuanya tanpa harus membuat pasangan merasa diduakan. Inginnya membuat semua keluarga merasa bahagia.

Pejuang usia Senja: Si Nenek dan Kisahnya
Saat mereka menjadi tua…

Mas Olo jadi ingat sebuah kisah nyata, sebuah inspirasi yang harus dituangkan di dalam tulisan kali ini. Sebetulnya kisah ini didapatkan oleh pasangan mas olo (alias mba olo) ketika kami jalan-jalan ke curug nangka (lihat cerita Curug Nangka: Harmonisasi Jiwa dan Raga). Mas Olo yang penasaran dengan curug nangka yang ngumpet harus mengeksplore sendiri melewati arus sungai untuk menemukan si curug yang hobi ngumpet, sedangkan mbanya memilih untuk menunggu di tanah lapang terbuka dengan alasan lelah.

Sekembalinya mas Olo menjepret si pesona curug nangka tersebut, ternyata si mbanya sedang asyik ngobrol dengan seorang nenek penjaja makanan di sana. Penasaran sekaligus tidak ingin mengganggu, mas olo dengan perlahan duduk di sebelah mereka, mencuri dengar apa yang dibicarakannya. Dengan logat sunda yang kental, ditambah helaan nafas khas seorang yang sudah renta, si nenek mencoba menceritakan keluh kesahnya kepada mbanya yang sedari tadi mendengarkan dengan sabar.

Si nenek bercerita bahwa dia sedang berjuang hidup sendiri untuk menafkahi kehidupannya sendiri. Suaminya sudah lama berpulang, sedang anaknya sudah lama pergi ke Jakarta mengikuti suaminya untuk berjuang hidup memulai keluarga barunya.

“Kenapa nenek ga tinggal bareng anak ajah nek?” tanya mbanya

Ternyata si nenek enggan merepotkan anaknya yang tinggal di Jakarta itu, karena untuk menghidupi keluarganya sendiri saja, sang anak cukup kerepotan dikarenakan suaminya kerja serabutan. Pernah juga si nenek dikasihkan alamat rumah tinggal anaknya, tetapi karena terlalu jauh, nenek tidak sanggup untuk mencari sendiri alamat tersebut.

Dengan alasan itulah, akhirnya nenek harus berjuang sendiri untuk dia makan setiap harinya. Berusaha mengumpulkan rejeki dengan cara berjualan nasi uduk dan gorengan buatannya di curug Nangka, berharap ada yang membeli dagangannya dan bisa pulang dengan membawa selembar dua lembar rupiah. Sehari paling banyak dia mendapatkan uang 20 ribu dari hasil jualan nasi uduk dan gorenganya, kadang bahkan harus membawa pulang dagangannya dengan utuh dikarenakan sepi. Rumah nenek juga cukup jauh dari curug nangka, sehingga untuk cepat sampai ke sana nenek harus naik ojek yang biayanya cukup mahal juga. Kadang duit hasil jualanya bisa langsung habis karena membayar biaya ojek tersebut.

Pernah suatu ketika, dengan kegigihan dan tekadnya, nenek nekat berjualan disaat hujan deras menerjang deras tubuh nenek yang renta itu. Alhasil saat melewati tanjakan licin di curug nangka, beliau jatuh menggelinding, badannya beset-beset, berdarah dan giginya ada yang patah. Sebuah perjuangan yang harus dibayar dengan rasa sakit yang nyata.

Pejuang usia Senja: Si Nenek dan Kisahnya
Sang Pejuang Kehidupan

Mas Olo tidak pernah membayangkan akan mendengar cerita mengenai perjuangan yang nyata di hari tua. Tapi nyatanya, hal itu tetap ada dan sangat dekat dengan kita. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah si nenek tersebut, salah satunya adalah mengenai keluarga. Dan sebuah komitmen pun terucap bahwa nantinya, di hari tua kedua orang tua mas olo nanti, kelak mereka harus merasakan bahagia menikmati senja, tak perlu berjuang lagi seperti si nenek, tak perlu mengais rejeki lagi, tinggal duduk manis menikmati album foto dan kenangan masa muda di depan perapian yang tenang.

Pejuang usia Senja: Si Nenek dan Kisahnya
Quote of the day

Jangan penah lupa untuk membahagiakan orang tua kita, selalu dan selamanya….

 

 

Salam Inspirasi,

Mas_Olo

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

5 thoughts on “Pejuang Usia Senja: Si Nenek dan Kisahnya

  • June 18, 2017 at 4:44 pm
    Permalink

    Terharu sangat… smangat berjuang demi masa depan…

    Reply
  • June 19, 2017 at 3:26 am
    Permalink

    Baca ini jadi inget sama kedua orang tuaku

    alhamdulillaah dipercaya sama Allah SWT merawat kedua orang tua sampai mereka menutup mata.

    Reply
    • June 23, 2017 at 2:01 am
      Permalink

      wah terharu banget deh sama kaka, memang seharusnya seperti itu, sebagai balas budi kita kepada kesetiaan mereka merawat kita sedari kecil.

      Salam Inspirasi.

      Reply
  • June 20, 2017 at 4:53 am
    Permalink

    sedih bro kalo saya baca ceritanya, mudah mudahan nanti orang tua saya bisa merasakan kesuksesan anak anaknya, tidak perlu lagi dia yang bekerja, yang perlu hanya bersama keluarga, anak dan cucunya..

    Reply
    • June 23, 2017 at 2:01 am
      Permalink

      iyah kak, semoga kita selalu ingat dengan orang tua kita kelak yah.. salam inspirasi…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *