#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 98

“Perjalanan paling bermakna adalah perjalanan melewati lorong waktu, mengenang kisah pilu, mengingat tragedi kelu, memaknainya dalam sendu…”

Mas_Olo

Perjalanan malam itu memaksa ingatan untuk kembali ke masa lalu, masa yang sebenarnya cukup pilu untuk dikenang. Masih segar dalam ingatan seorang bocah SD, televisi yang terus memberitakan ribuan massa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa berhadapan langsung dengan senjata laras panjang dan pakaian lengkap militer dengan komando yang entah datang dari mana. Kami menolak untuk lupa!

Hari itu mencekam, sekolah dipulangkan cepat, kantor-kantor diliburkan, toko dan swalayan tutup. Bocah itu hanya bersorak girang karena bisa pulang cepat untuk segera pulang ke rumah menonton acara tv yang mustahil bisa ditontonnya setiap hari sekolah. Bergegas ia pulang ke rumah tanpa tau ada berjuta muka masam, marah, galak dan was-was yang ada di setiap perjalanan pulangnya. Sesampainya di rumah segera ia menyalakan tv dengan harapan mendapatkan acara segar nan lucu. Tak berapa lama setelah tv menyala, yang ada tatapan kecewa bercampur cemas, karena yang dilihatnya adalah ribuan orang sedang sibuk baris berbaris saling berhadapan dengan muka garang, lemparan batu, saling kejar, terbakar di sana sini, mencekam. Si bocah berguman perlahan: “Ahh.. kakak mahasiswa itu kurang kerjaan saja, ngapain sih pake demo demo gitu, bikin rusuh saja..” tanpa tau bahwa itu adalah sebuah perjuangan melawan rezim kekuasaan.

Menjelang malam keadaan tidak semakin membaik. Jalan raya kini sunyi tanpa ada suara kendaraan. Tak berapa lama berganti menjadi suara orang berteriak-teriak, entah apa yang diteriakannya, dibarengi dengan suara berisik roda-roda yang seprtinya berasal dari troli. Spontan sang bocah melirik ke luar pagar, danmendapati banyak orang sedang pesta pora seperti mendapat hadiah durian runtuh, ada yang membawa TV, kulkas, mesin cuci, playstation, sampai susu dan beras yang tumpah ke jalan. Cemas menghantui sang malam, sang bocah tak bisa menutup matanya barang sedetikpun, ini kejadian luar biasa baginya, seperti mimpi yang tak kunjung berakhir. Hanya satu harapnya, besok pagi ia akan terbangun melihat mentari dengan keadaan yang normal, kembali bersekolah ceria, tanpa ketakutan.

Entah kenapa, sejarah selalu menarik perhatian. Malam itu kami hanya ingin menikmati semilir angin malam di depan halaman luas Taman Ismail Marjuki di Cikini sembari menikmati sepiring nasi goreng dan seseruput aklamasi puisi. Setelah kenyang, sedikit jalan adalah upaya normal untuk menurunkan si nasi goreng yang sedang menunggu dicerna oleh lambung. Mata menangkap sekumpulan orang sedang meriung, duduk bersila, berhiaskan kerlap kerlip lilin. Hening…hening…hening… Dengan penasaran kami mendekat kesana, dan mendapati pemandangan yang menakjubkan. Suasana haru bercampur pilu dalam kenang akan sejarah masa lalu. Spanduk besar bertuliskan “Melawan Kebangkitan Orde Baru” membuat jelas apa makna perayaan hening malam itu. Tanggal menunjukan angka 12 dan bulan Mei. Sembilan tahun berlalu semenjak semua kejadian kelam yang membuat si bocah tak dapat tidur.

#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 1998
#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 1998
#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 1998
#MenolakLupa: Lilin dan Nisan pertanda hilangnya HAM dan Keadilan masa itu

Sekumpulan nisan dan lilin sebagai pembuka gerbang waktu menghampar di depan halaman. Duduk bersila berbagai generasi masa, yang mungkin mengalami berbagai makna dan rasa ketika menilik 9 tahun yang lalu. Ada yang tertunduk haru, ada yang menahan pilu, ada yang bergidik ragu, ada yang menatap geram,ada yang tanpa ekspresi. Semua bercampur di hadapan nisan yang bertuliskan nama korban dan kejadian pilu di masa orde baru. Begitu pilu dan haru, namun langkah kaki tak lantas enggan menuju gerbang waktu dimana tergambar 5000 foto dari peristiwa masa lalu yang diabadikan oleh mata lensa. Mungkin bagi orang yang tak mengalaminya atau lahir dimasa kini hanya sebagai pameran foto biasa, yang dipajang sedemikian rupa di tembok berwarna hitam dengan sorot lampu pedar sebagai cahaya sederhana bagi foto itu. Tapi bicara rindu dan bicara haru, dengan meluangkan ruang imajimu, ini adalah sebuah ruang waktu, dimana kita seperti berjalan melewati sebuah masa demi masa, kejadian demi kejadian yang memaksa kita akan kembali ke jaman itu, memaksa mas olo menjadi bocah yang ketakutan dan dirundung cemas saat melihat tayangan televisi. Setiap langkah membawa mas olo lebih dekat dengan pengertian bahwa perjuangan itu bukan melulu mengenai menembak musuh seperti di film Rambo. Berjuang itu bisa dengan dengan karya, bisa dengan kegerakan, bisa dengan simpati dan mungkin sebuah lilin.

#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 1998
Ini adalah lorong waktu #MenolakLupa
#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 1998
Secercah Damai Untuk Negeri Ini
#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 1998
People Power (JAKUN bersatu…)
#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 1998
#MenolakLupa: Suharto dan Kroni-Korninya.. HARAP DIINGAT!!!

Hmmm… agaknya pesannya terbawa sempurna ketika kami selesai melewati lorong waktu itu. Kami semua TIDAK MAU KEMBALI KE MASA ITU, TOLAK ORDE BARU!!! Siapapun yang akan membawa bangsa ini kembali ke masa itu, membawa isu-isu pribumi dan rasial lainnya, mencoba mencoreng NKRI dengan paham-paham radikalisme dan mencoba mengganti ideologi pancasila akan berurusan dengan mas olo !!! bahkan mungkin bukan hanya mas olo saja, tapi seluruh masyarakat Indonesia yang cinta NKRI!!

#MenolakLupa: Mengenang Tragedi Berdarah MEI 1998
Untuk Alasan Apapun Tidak Ada Yang Namanya “PUUENAK JAMANKU TOH?:

Mari belajar dari masa lalu, melewati lorong waktu dan memaknai sejarah dengan semangat baru….

Salam Inspirasi,

Mas_Olo

#MenolakLupa

 

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *