Inspirasi dari Gunung Gede: “Nasduknya satu kang!”

“Semangat itu sifatnya menular.”

Mas_Olo

 

Berbicara mengenai hidup, rasanya pas apabila kita merefleksikan kehidupan kita sebagai sebuah perjalanan pendakian. Ada tujuan yang ingin kita tuju, ada setiap langkah yang harus kita jalani, ada banyak halangan rintangna yang menghadapi di depan sana, ada tanjakan dan turunan yang siap menanti, ada kelelahan menanti, ada keputusasaan yang siap mengintip kapan saja, ada inspirasi yang tiba-tiba terlintas begitu saja, ada semangat membara yang siap dibangkitkan.

Penjual Nasi Uduk Gunung Gede
Setiap Perjalanan Akan Menemukan Kisahnya Sendiri

Setiap perjalanan akan menemukan kisahnya sendiri. Setiap penanjakan akan menemukan maknannya sendiri. Mungkin itulah alasan mengapa masih banyak orang yang berbondong-bondong untuk mendaki gunung. Padahal namanya kita melakukan pendakian itu jauh dari kata nyaman. Tidur kedinginan di basecamp sebagai mulanya, kelelahan fisik dan mental di setiap perjalanannya, sampai bergulat dengan kejamnya angin malam yang menusuk di kala malam. Jauh dari kemewahan dan kenyamanan selimut tebal dan kasur empuk bak hotel bintang 5. Tidak ada sarapan mewah, tidak ada channel –channel  tv yang bisa kita ganti seenak udel kita, tidak ada kolam renang jernih yang siap kita cumbui ketika kita penat. Tidak ada kata mewah dan nyaman, namun setiap kali ada ajakan penanjakan, berbondong-bondong pendaki siap menapaki kisahnya sendiri.

Kisah kali ini adalah sumber inspirasi untuk menjalani hari demi hari. Para pendaki memiliki berbagai macam motivasi ketika mereka memutuskan mendaki. Menapaki lelahnya jalur yang menantang, sepertinya membuat para pendaki berusaha mencapai sesuatu yang menjadi tujuannya. Tapi tidak untuk seorang akang, yang rela mendaki hampir setiap hari, demi menularkan semangat juangnya kepada salah satu pendaki.

Ini kisah mengenai Kang Rijal, akang yang mendaki bukan untuk pencapaian diri sendiri, tetapi untuk menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Pertemuan yang bermula dari peristirahatan sejenak para pendaki, akang Rijal tak malu untuk menghampiri kami, untuk sekedar menawarkan solusi.

Inspirasi Kang Nasduk di GUnung Gede
Kang Rijal, Sumber Inspirasi

“Lapar mas?” Katanya.

“Ini silahkan ada sesuap nasi untuk mengganjal perut..” Lanjutnya.

Kata sederhana ini mampu menggugah hati seorang pendaki untuk menoleh kepada si Akang di tengah rasa lelahnya. Oalaah ternyata si akang ini adalah penjual nasi uduk yang cukup fenomenal di Gunung Gede. Betapa tidak fenomenalnya, kata-kata nasi uduk sudah sangat melekat bagi para pendaki gunung ini. Di tengah perjuangan untuk menapaki gunung ini, sering terselip rasa lapar yang sangat. Sudah tentu ini menjadi sebuah solusi.

Saya membeli, hanya 1 bungkus berdua dengan pasangan saya. Lengkap dengan gorengannya hanya 15 ribu saja. Rasa lapar yang melanda membuat kami lantas menyantap hidangan inspirasi itu tanpa banyak bertanya. Malas rasanya mengobrol sembari makan, bisa keselek sih klo kata orang tua. Kami habiskan, bayar dan kembali melanjutkan perjalanan dengan mengucapkan terima kasih dan salam kepada si akang.

Inspirasi Kang Nasduk di Gunung Gede
Klo disini, nasi uduknya adalah nasi kuning…hehhehe

Yang lucu adalah, sejauh apapun saya melangkah naik dan berusaha naik, si akang selalu berhasil ada di depan saya, sembari tersenyum sembari menyemangati. Padahal kan saya tadi jalan lebih dulu yak.. kok bisa? Hahaaha.. ini bukan kisah mistik lho yah..hehehe.. Si akang memang sudah terbiasa menapaki jalur ini. Dia anggap ini adalah takdir dan mata pencahariannya sehari-hari. Sembari memberi makan pendaki, ia juga menafkahi keluarganya. Dalam suatu persinggahan sementara di pojok gunung ini, tak sabar saya menyerbu berbagai pertanyaan dari sumber inspirasi ini. Mulai dari namanya, asalnya, pekerjaannya, anaknya sampai mengenai perjalanan hidupnya.

Kisahnya sederhana tapi memukau. Awalnya si Akang berjualan sayuran, menitip sayuran dari kebunnya dan kebun teman-temannya untuk dijual ke pasar lagi, bahkan sampai ke Jakarta. Kini, ia memutuskan untuk berjualan nasi uduk demi dekat dengan keluarganya, lebih tepatnya istrinya. Anaknya sudah pada beranjak dewasa, sudah kawin mungkin. Nah untuk alasan inilah dia lebih suka berjualan di Gunung Gede. Istrinya yang membuat nasi uduknya,si akang yang menjualnya. Perpaduan yang sempurna untuk sebuah kisah cinta. Tadinya, si akang sering dibentak, dimarahi bahkan diusir oleh petugas/ranger/polisi hutan dari gunung gede ini. Mungkin karena alasan keamanan dan kebersihan. Tapi toh semangat si akang tak pudar juga, rasa-rasanya ia teringat peluh sang istri saat memasak satu kuali penuh nasi uduk di tengah malam untuk dibawa si akang paginya. Tak habis akal, si akang justru lantas mendekati para petugas, berusaha akrab, tak jarang juga menggratiskan dagangannya. Alhasil, kini dia menjadi legenda dan fenomena. Siapapun pendaki yang menapaki jalur putri pasti akan bertemu dengan dirinya.

Kisahnya sederhana, tapi memukau. Semangatnya untuk tetap membawa 50 bungkus nasi uduk buatan istri tercinta membuat saya menahan haru untuk setiap langkah-langkahnya yang menginspirasi saya. Tak ada rasa lelah dan keluh menghiasi wajahnya, sapa setiap pendaki pun dibalas dengan senyum semangat di wajahnya. Berbekal tas gemblok yang berisi 50 bungkus nasi uduk untuk sekali perjalanan naik di pagi hari dan turun menjelang malam hari. Semangat yang mungkin disuntikan sang istri saat dirinya terlelap dalam mimpi melalui bisikan sederhana.

Semangat itu kini melegenda dan menjadi semangat lagi bagi kami para pendaki yang sedang mendaki maupun sedang menapaki mimpi-mimpi kami. Semangat yang menjelma menjadi sumber inspirasi dikala kami kelelahan menjalani kehidupan ini, semangat yang menjelama menjadi senyum yang setia menyapa kami para pendaki yang lelah dihajar rutinitas yang menuntut kami untuk tak menjadi diri sendiri, semangat yang menjelma menjadi sebungkus nasi uduk bagi kami yang kelaparan dihantam bertubi-tubi amarah, makian dan singungan di lingkungan kerja, semangat kisah cinta bagi kami yang bersiap untuk merajut kisah cinta sederhana dalam ikatan yang abadi. Semangat itu menjelma menjadi berbagai macam bentuk, tetap sederhana tapi mengispirasi.

Inspirasi Mendaki

 

Terima kasih akang Rijal untuk semangatnya.

Salam Inspirasi,

Mas_Olo

Mas_Olo

Berbagi dalam kesederhanaan, Bercerita dalam kegembiraan, Menyelami sebuah Inspirasi.

10 thoughts on “Inspirasi dari Gunung Gede: “Nasduknya satu kang!”

  • April 15, 2017 at 11:26 pm
    Permalink

    Nasi uduk paling nikmat ya inii.. ternyata si akang romantis ugaa rela jualan nasi uduk demi deket istri ❤️

    Reply
    • April 16, 2017 at 1:20 pm
      Permalink

      Iyaah melani, ini nasi uduk paling nikmat karena dibuat dengan kasih sayang dan perjuangan..hehehhe…

      salam inspirasi

      Reply
  • April 16, 2017 at 6:53 am
    Permalink

    Waaah.. Kapan yaa bisa mendaki.. tapi kuat apa gak, itu masalahnya.. hehehe..
    Seruu banget pasti apalagi bareng teman2..

    Reply
    • April 16, 2017 at 1:21 pm
      Permalink

      Hai om don… ayuk mendaki, saya juga tadinya ga kuat kok, perut tambun, mudah lelah..hehehe.. tpi dengan tekad dan latihan lari, ditambah motivasi kawan-kawan pasti bisa kok… Apalagi kan nanti ketemu kang nasduk disono..hehe..

      Salam Inspirasi

      Reply
    • April 18, 2017 at 6:38 am
      Permalink

      DUlu juga kalau lagi malas masak gadoin mie instant di gunung sampe lidah ledes..hehehe…
      Salam inspirasi anyway…

      Reply
  • April 17, 2017 at 1:46 pm
    Permalink

    He did it everyday? Luar biasa🙌

    Reply
    • April 18, 2017 at 6:37 am
      Permalink

      Yes mas brog.. cuma kalau sabtu minggu porsi nasduknya yang dibawa lebih banyak. kalau hari biasa paling 10-15 bungkus saja…
      salam inspirasi

      Reply
  • April 26, 2017 at 6:47 am
    Permalink

    aku juga pecinta nasi uduk, dalam seminggu minimal sekali harus sarapan nasi uduk favorit

    Reply
    • April 30, 2017 at 6:35 am
      Permalink

      Mantab kang… sesama pencinta nasi uduk nih… Cobain nasi uduk di gunung gede kang, maknyuss..hehehhe.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *